"Perdamaian itu tidak instan dan tidak mudah. Harus ditanamkan sejak usia dini. Masyarakat kita, khususnya Kabupaten Ciamis, harus menjadi masyarakat yang cinta damai," katanya.

Herdiat juga menyampaikan gagasan agar Ciamis tidak hanya menjadi tempat berdirinya Gong Perdamaian, tetapi berkembang menjadi ruang untuk memperkenalkan nilai-nilai perdamaian kepada dunia.

Ia bahkan berharap para duta besar negara-negara yang berada di Indonesia dapat diundang ke Ciamis untuk melihat langsung warisan sejarah perdamaian Tatar Galuh.

"Kalau kita mempunyai keinginan dan kemauan yang tinggi, insyaAllah tidak ada yang tidak mungkin. Mudah-mudahan Ciamis bisa menjadi rumah nilai perdamaian dan tempat belajar sejarah untuk membangun masa depan yang harmonis," tuturnya.

Bagi Herdiat, pesan perdamaian juga memiliki kaitan erat dengan kondisi masyarakat. Konflik yang terjadi di berbagai negara tidak hanya menimbulkan korban dan kerusakan, tetapi turut berdampak pada kehidupan ekonomi masyarakat dunia, termasuk Indonesia.

Ia mencontohkan gejolak harga bahan bakar minyak (BBM) dan meningkatnya berbagai kebutuhan masyarakat sebagai salah satu dampak yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Di tingkat daerah, Herdiat berharap semangat perdamaian dapat berjalan beriringan dengan terciptanya keamanan dan kondusivitas. Menurutnya, daerah yang aman akan lebih mudah menarik kepercayaan dan minat investor untuk ikut membangun perekonomian Ciamis.

"Jangan hanya seremonial seperti ini terus. Paling tidak harus ada manfaatnya untuk masyarakat Kabupaten Ciamis. Kalau kita ciptakan satu daerah yang aman dan kondusif, tidak menutup kemungkinan investor-investor datang untuk menata dan membangun Ciamis agar lebih baik," pungkasnya.