NADIKABAR.COM — Kecelakaan pesawat Aeroflot Rusia adalah salah satu tragedi yang dipicu oleh kelalaian. Kecelakaan ini terjadi lantaran pilot membiarkan anaknya memegang alat kontrol pesawat.
Dikutip dari laporan resmi, pada 22-23 Maret 1994, pesawat Airbus A310-308 milik maskapai Aeroflot (dioperasikan oleh Russian Airlines) berangkat dari Bandara Sheremetyevo, Moskow menuju Hong Kong.
Pesawat mengalami kecelakaan fatal dan jatuh di kawasan pegunungan dekat kota Mezhdurechensk, Rusia pada 23 Maret 1994. Pesawat meledak dan hancur total saat menghantam lereng bukit berhutan.
Kejadian dimulai saat pesawat lepas landas dari Moskow dan naik ke ketinggian jelajah 10.100 meter dalam kondisi mode kendali otomatis (autopilot).
Saat itu, Kapten Pilot Danilov beristirahat di kabin penumpang. Kursi kiri kokpit diisi oleh Kapten Pengganti (Back-up PIC) Kudrinsky, sedangkan kursi kanan diisi oleh Co-pilot Piskarev.
Kudrinsky membawa dua anaknya yang berusia 13 tahun, dan 15 tahun masuk ke dalam kokpit. Ia mengizinkan anaknya yang berusia 13 tahun duduk di kursi pilot sebelah kiri dan memperagakan cara mengubah arah pesawat menggunakan tombol heading select pada sistem autopilot. Anaknya satu lagi menggantikan adiknya duduk di kursi kiri kendali pilot.
Ulah dua bocah itu mengubah pergerakan autopilot. Namun, sistem pesawat tidak membunyikan alarm visual maupun suara untuk memberi tahu pilot bahwa kendali kemudi berubah. Tanpa disadari oleh kru, pesawat mulai miring ke kanan secara bertahap.
Sistem autopilot terputus sepenuhnya dan pesawat menukik tajam dengan kecepatan melampaui batas aman (mencapai 740 km/jam). Tak lama, pesawat menghantam lereng bukit
Kecelakaan ini menewaskan seluruh 75 orang yang berada di dalam pesawat. Sebanyak 63 Penumpang (termasuk 25 warga negara asing) dan 12 Awak Pesawat (3 kru kokpit/pilot dan 9 awak kabin).
Laporan resmi menyimpulkan bahwa kecelakaan disebabkan oleh kombinasi beberapa penyebab. Namun, keputusan Kapten Kudrinsky mengizinkan anaknya duduk di kursi pilot dan memegang kemudi adalah kesalahan paling fatal.
Selain itu, kru terdistraksi oleh percakapan di kokpit dan terlambat menyadari bahwa pesawat telah miring melebihi batas aman.