NADIKABAR.COM — Petani anggur di Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Buleleng, menghadapi persoalan klasik setiap kali panen raya. Melimpahnya produksi justru membuat harga buah anggur lokal anjlok hingga Rp 3.000 - Rp 5.000 per kilogram. Tak jarang, buah yang tidak terserap pasar akhirnya membusuk dan dibiarkan di pohon.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Tim Bestari Scientech Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Dipimpin Prof. I Wayan Mudiarsa, tim Undiksha menggelar sosialisasi dan pelatihan bagi petani anggur di Desa Banjar.
Program tersebut tidak hanya menyasar peningkatan produksi, tetapi juga berupaya memutus ketergantungan petani terhadap penjualan buah segar. Melalui konsep Living Lab (Laboratorium Hidup), petani didampingi mulai dari budidaya, penanganan pascapanen, pengolahan produk hingga strategi pemasaran.
Perwakilan Tim Undiksha, Uzlifatul Hasanah, mengatakan pendampingan dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Petani didorong meningkatkan kualitas anggur sekaligus mengolah sebagian hasil panen menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
"Kami berupaya agar program ini berdampak ke masyarakat di Desa Banjar, khususnya petani anggur. Kami juga siap melakukan pendampingan secara berkala agar program berjalan maksimal," ujarnya.