Dalam program tersebut, Undiksha menggandeng sejumlah mitra strategis, di antaranya Bekul Bali serta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng melalui Dinas Pertanian.

Bagi petani, persoalan harga menjadi tantangan terbesar. Salah satu petani anggur Desa Banjar, Made Budiasa, mengatakan harga biasanya jatuh ketika produksi melimpah saat panen raya.

Menurutnya, harga anggur lokal pada kondisi tertentu hanya berkisar Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per kilogram. Harga tersebut bahkan tidak sebanding dengan biaya pemetikan. Akibatnya, sebagian buah terpaksa dibiarkan membusuk di pohon.

"Kalau harga turun, petani kadang tidak mengambil karena biaya petiknya saja tidak sebanding," ungkapnya.