NADIKABAR.COM โ Petani di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, menyesuaikan pola tanam dengan ketersediaan air minim di lahan sebagai dampak kekeringan, dengan menerapkan sistem tumpangsari palawija dan tembakau.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pacitan Sugeng Santoso, Selasa, mengatakan, sebagian petani memilih menanam palawija atau tembakau di lahan dengan pasokan air irigasi terbatas, sedangkan lahan yang tidak memiliki sumber air sementara dibiarkan bera.
โAda yang beralih ke palawija atau tembakau. Atau dibiarkan bera yang memang tidak ada airnya,โ kata Sugeng saat dikonfirmasi di Pacitan.
Ia mengatakan, berdasarkan laporan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), terdapat sekitar 0,1 hektare lahan pertanian yang mengalami puso di Kecamatan Ngadirojo akibat keterbatasan air.
Namun, menurut dia, kondisi tersebut belum berdampak luas terhadap areal persawahan di Pacitan. Sejumlah petani masih dapat menanam padi dengan memanfaatkan sumber air dari jaringan irigasi perpompaan.
Sugeng menyebut luas lahan baku sawah (LBS) di Kabupaten Pacitan mencapai sekitar 14.296 hektare.
Dari luasan tersebut, padi yang masih tertanam atau cover crop saat ini sekitar 1.109 hektare.
โUntuk beberapa lokasi sawah saat ini juga masih ada yang tanam padi dengan memanfaatkan irigasi perpompaan,โ ujarnya.
Di sisi lain, laporan POPT mencatat terdapat sekitar dua hektare lahan yang berpotensi mengalami kekeringan dan lima hektare dalam kondisi waspada di Kecamatan Kebonagung.
DKPP Pacitan, kata Sugeng, melakukan sejumlah langkah untuk menjaga lahan seluas tujuh hektare tersebut agar tidak mengalami puso.
Upaya itu antara lain melalui pengaturan pembagian air, pemasangan perpipaan, serta penggunaan alat dan mesin pertanian berupa pompa air untuk memasok kebutuhan air tanaman.
โUpaya yang dilakukan untuk menyelamatkan tujuh hektare yang ada potensi kekeringan tersebut dilakukan pengaturan pembagian air, perpipaan, dan penggunaan alsin berupa pompa air,โ katanya.
Ia menambahkan penyesuaian pola tanam menjadi salah satu strategi petani menghadapi keterbatasan air, sekaligus menjaga lahan tetap produktif sesuai kondisi sumber daya air yang tersedia.
DKPP Pacitan juga terus memantau kondisi lahan melalui petugas di lapangan serta mengoptimalkan distribusi air dan sarana perpompaan pada areal yang masih memungkinkan diselamatkan.