NADIKABAR.COM β PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menjamin pasokan liquefied natural gas (LNG) domestik hingga akhir tahun 2026, dengan total kebutuhan hampir 20 kargo.
βSudah dijamin sampai akhir tahun. (Kebutuhan) hampir 20-an kargo. Udah secure (aman),β ujar Grup Head Gas Supply dan LNG Trading PGN Muhammad Anas Pradipta ketika dijumpai di Jakarta, Rabu.
Anas menjelaskan pasokan LNG untuk memenuhi kebutuhan domestik diperoleh dari berbagai kilang, seperti Kilang Donggi Senoro (PT Donggi Senoro LNG), Kilang LNG Tangguh, hingga Kilang LNG Badak.
βAman, semua kilang aman. Gas pipa juga lagi bagus-bagusnya,β ujar Anas.
Selain menjamin keamanan pasokan LNG untuk memenuhi kebutuhan domestik, Anas juga menyampaikan pemerintah telah menjamin harga LNG hingga akhir tahun.
βHarganya juga udah dijamin, kan sampai akhir tahun oleh pemerintah,β ucap Anas.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan diskon atau penurunan harga liquefied natural gas (LNG) untuk sektor industri menjadi 13 dolar AS per MMBTU berlaku hingga 31 Desember 2026.
Pemerintah memutuskan menurunkan harga liquefied natural gas (LNG) untuk sektor industri menjadi 13 dolar AS per MMBTU dari semula sekitar 20β23 dolar AS per MMBTU sebagai langkah menjaga daya saing industri nasional, sekaligus mencegah terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK).
Kebijakan tersebut diambil setelah pemerintah merespons aspirasi pelaku industri di tengah kenaikan harga gas dunia yang membebani biaya produksi.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyampaikan penurunan harga LNG itu dicapai dengan menekan biaya seluruh komponen LNG, mulai dari hulu, industri antara (midstream), hingga unsur hilir dan distribusinya.
Dalam skema kebijakan gas industri, pemerintah tetap mempertahankan subsidi gas industri lewat Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) di kisaran 6,5 hingga 7 dolar AS per MMBTU.
Sementara untuk industri pengguna gas pipa di luar skema HGBT yang pasokan gasnya berasal dari wilayah Jawa, harga tetap dipertahankan sebesar 9,6 dolar AS per MMBTU.
Adapun persoalan utama terjadi pada industri yang menggunakan LNG akibat menurunnya produksi gas dari lapangan-lapangan di wilayah Jawa bagian barat.