NADIKABAR.COM — Direktur Keuangan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Bayu Kusuma Dewanto mencatat investasi industri hulu minyak dan gas bumi (migas) dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) mencapai sekitar 15,42 miliar dolar AS sepanjang 2025.
“Tahun kemarin, itu dari kontraktor-kontraktor hulu migas, itu mengeluarkan sekitar 15 miliar dolar AS untuk investasi di hulu migas sendiri. Nilai yang sangat-sangat besar untuk ukuran hari ini,” ujar Bayu dalam acara konferensi pers Forum Ekonomi Hulu Migas (FOREK Hulu Migas) 2026 di Jakarta, Selasa.
Bayu menyampaikan investasi yang cukup besar tersebut membutuhkan kepastian, koordinasi, dan dukungan dari semua pemangku kepentingan di dalam negeri.
Ia menekankan pentingnya Indonesia untuk bisa mempertanggungjawabkan investasi yang fantastis tersebut dan bagaimana investasi itu bisa menghasilkan migas yang memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.
Bayu memaparkan total kebutuhan minyak di Indonesia berada di kisaran 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi minyak mentah Indonesia berada di angka 600 ribu barel per hari.
“Jadi, ada jarak yang cukup besar dari apa yang dibutuhkan oleh Indonesia dan apa yang bisa kita produksikan,” ujar Bayu.
Oleh karena itu, ia berharap Indonesia dapat memaksimalkan potensi hulu migas yang dimiliki untuk menambah jumlah produksi migas di dalam negeri. Pemerintah mencatat prospek hidrokarbon Indonesia berasal dari 128 cekungan sedimen (basins). Dari jumlah cekungan tersebut, baru 20 cekungan yang telah dikembangkan untuk menopang produksi migas nasional.
“Kalau datanya, dari 128 cekungan itu baru 20 yang kita kerjakan dari operator-operator hulu migas. Artinya apa? Sebagian besar potensi di Indonesia ini masih menunggu untuk dikerjakan,” ucap Bayu.
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengatakan stimulus fiskal yang menarik dapat mengubah potensi migas Indonesia menjadi produksi.
“Bagaimana meng-unlock potensi menjadi produksi dan bagaimana menciptakan daya saing investasi? Melalui stimulus fiskal yang atraktif,” ucap Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas Desti Melanti.
Desti menjelaskan bahwa mandat dari hulu migas untuk mencapai dan memenuhi target produksi dan lifting migas nasional tidak terlepas dari sejumlah isu yang harus dikawal.
Isu-isu tersebut meliputi kepastian hukum, kepastian investasi, dan kepastian stimulus fiskal yang memberikan peningkatan investasi.
Desti meyakini daya tarik sektor hulu migas Indonesia akan menarik minat investor apabila hal-hal tersebut dapat terpenuhi. Selain itu, Indonesia juga perlu untuk terus melakukan penemuan-penemuan cadangan baru yang nantinya akan berkontribusi terhadap tercapainya target produksi nasional.
“Tentunya ini juga tidak lepas dari upaya komersialisasi yang sangat adaptif dan lincah, di mana kita tidak lagi menggunakan pendekatan yang konservatif,” ucap Desti.