Ia pun menyinggung demokrasi di negara-negara Barat yang justru melahirkan kondisi chaos sebagaimana yang tengah berkecamuk di Eropa belakangan ini.
"Kalau kita ikut demokrasi ala barat, sekarang lihatlah televisi, berita, setiap hari apa yang terjadi di Prancis, Italia, di Eropa, tempat lahir demokrasi yang mengajarkan kita HAM, kita lihat," ujarnya.
Prabowo juga mengungkap sejumlah pemberontakan yang terjadi di masa lalu kerap diintervensi oleh pihak asing yang ia sebut tidak ingin Indonesia menjadi negara maju.
"Bangsa-bangsa besar selalu intervensi, selalu ganggu kita, selalu menghasut perpecahan, selalu membiayai pemberontakan, kerusuhan, adu domba," kata Prabowo.
Ia mencontohkan beberapa gerakan atau pemberontakan mulai dari Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), Republik Maluku Selatan (RMS), Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)/Perjuangan Semesta (Permesta), hingga Pemberontakan Madiun 1948.
Namun, Prabowo menyatakan Indonesia tetap kuat dan memiliki ketahanan nasional.
Ia kembali mencontohkan misalnya pada 1997 hingga 1998, banyak pihak yang meramalkan Indonesia akan pecah dalam waktu yang tidak lama. Akan tetapi, ramalan itu keliru.
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga mengingatkan bahwa pangan, kini dapat menjadi senjata dalam persaingan global.
Ia menilai perubahan situasi global menuntut Indonesia memperhitungkan hubungan antara kepentingan ekonomi, politik, dan pertahanan.
"Sekarang mata uang jadi senjata. Sekarang ekspor impor jadi senjata, sekarang pangan jadi senjata, beras jadi senjata. Jadi bisnis tidak bisa kita pandang murni bisnis," ujar Prabowo.
Prabowo mengatakan sejak awal pemerintahannya, bahkan sebelum resmi dilantik ketika masih menjabat menteri pertahanan pada era Presiden Joko Widodo, ia berupaya menjaga hubungan baik dengan negara-negara tetangga.
Prabowo juga menyinggung bahwa kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia bukan semata alamiah, tapi ada karena ulah manusia.