Oleh karena itu, kata dia, penanganan tidak boleh ditunda karena lumpur yang semakin mengeras dan ancaman hujan susulan dapat memperbesar kerusakan, sekaligus mempersulit proses penyelamatan.
"Pemerintah daerah melalui koordinasi lintas perangkat daerah terus mendorong pendataan, identifikasi tingkat kerusakan, penanganan awal, dan komunikasi dengan instansi terkait agar situs-situs tersebut mendapatkan perhatian serta penanganan sesuai kaidah pelestarian cagar budaya," katanya.
Bupati Sibral Malasyi menegaskan rehabilitasi pascabencana tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi harus mencakup penyelamatan warisan sejarah dan kebudayaan yang menjadi kekayaan tak ternilai bagi generasi mendatang.
Pihaknya berharap Kemenbud dapat menindaklanjuti hasil peninjauan melalui dukungan teknis, kajian ahli, pendampingan, dan percepatan program rehabilitasi terhadap situs-situs yang mengalami kerusakan.
"Kami tidak ingin bencana hanya meninggalkan kerusakan, tetapi juga menghilangkan sejarah dan identitas daerah. Apa yang diwariskan para leluhur harus diselamatkan bersama," kata Bupati Sibral Malasyi.