Pigai mengaitkan penjelasan tersebut dengan buku The Death of Expertise karya Tom Nichols yang menurutnya membahas fenomena ketika kepakaran kehilangan otoritas di tengah perdebatan publik dan perkembangan media sosial.
"Yang dikritik Presiden adalah pakar post-truth yang membungkam, membenamkan kebenaran. Pakar post-truth," ujar Pigai.
Ia mengatakan perkembangan media sosial dan internet memungkinkan informasi serta pendapat beredar secara luas. Karena itu, kapasitas dan posisi seseorang sebagai narasumber perlu dipahami secara proporsional.
"Jadi tolong dipahami, apa yang disampaikan oleh Bapak Presiden itu tidak semua. Ya. Tidak semua. Tapi para pakar-pakar tersebut, mereka main gitu," katanya.
Pigai juga menyampaikan sejumlah contoh dalam sejarah terkait perdebatan keilmuan dan kebijakan publik untuk menjelaskan risiko ketika pandangan yang disebutnya sebagai informasi keliru memengaruhi pengambilan keputusan.