"Kalau Anda dapat komposter, so what? Harus berapa sampah yang dihitung tidak keluar ke landfill (tempat pembuangan) Bantargebang. Kami hampir 32 ton dalam waktu 3 tahun ini yang tidak kita buang ke landfill Bantargebang, dan itu tempat sampahnya ada di rumah-rumah warga," sebut Taufiq.
Sampah yang dikumpulkan pun tak dibiarkan atau disalurkan begitu saja. Melainkan, Taufiq menciptakan sebuah sistem yang terus bergulir, misalnya, sampah organik menjadi kompos untuk tanaman serta menjadi makanan untuk maggot.
"Maggotnya gede buat ayam, ayamnya bertelur 25 jam sekali, telurnya kita makan. Alas kandang ayamnya kita sebar lagi ke tanaman, tanamannya nanamnya pepaya, daun-daun kelor, kasihkan lagi ke ayam, maggotnya gede kasih ke ikan, muter terus," jelasnya.
Taufiq juga menyediakan sejumlah opsi bagi warganya untuk melakukan komposting. Opsi tersebut terdiri dari empat, yakni lubang biopori, komposter, eco-enzyme, dan mesin penghancur sampah.
Di luar sistem pengolahan sampah, RT 08 juga telah dilengkapi dengan fasilitas pembangkit listrik tenaga surya dan instalasi pengolahan air limbah.
"Bayangkan ini ibarat negara kecil nih, negara dalam negara, insyaallah kalau listrik enggak ada, kita masih bisa hidup 3 hari," ucapnya.