NADIKABAR.COM — Sudah hampir satu tahun berlalu, namun derita Gopar (46), seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kampung Cibolang, Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, tak kunjung usai.

Pria yang merantau ke Arab Saudi untuk menjadi sopir rumahan ini kini terbaring lemah di ruang perawatan sebuah rumah sakit di Kota Riyadh, berjuang melawan penyakit hipertensi dan komplikasi pascaoperasi kanker otak yang tak kunjung membaik.

Niat hati ingin mengubah nasib keluarga, Gopar justru terjebak dalam lingkaran kemalangan. Dugaan perlakuan tak layak di tempat kerja, mulai dari kerap terlambat makan hingga upah yang tersendat, membuat fisiknya perlahan ambruk. Di majikan yang sama, istrinya, Isoh (44), berjuang tak kalah keras bekerja sambil merawat Gopar.

Kondisi kesehatan Gopar tak menunjukkan tanda-tanda pemulihan meski perawatan medis sebenarnya ditanggung asuransi (Tamim) melalui kartu identitas resmi (Iqamah). Melihat kondisi yang kian memprihatinkan, sang istri dan pihak keluarga akhirnya berpasrah diri. Jalan terbaik hanya satu, membawa Gopar pulang ke Tanah Air.

Namun, pintu untuk pulang tertutup rapat oleh tembok birokrasi dan masalah finansial. Pihak majikan enggan menanggung biaya penalti administrasi sebesar 27.000 Riyal atau setara Rp110 juta.