Yusup Saepulloh, seorang pekerja di perusahaan Saptco Bus di Kota Taif yang secara mandiri menjadi relawan kemanusiaan, menceritakan bahwa Gopar dan istrinya bekerja di bawah majikan yang sama. Gopar berangkat ke Arab pada tahun 2020 dan disusul oleh istrinya.

"Selama perjalanan sampai 1 tahun, saya dapat informasi dari istrinya langsung, tidak ada pemulihan, tidak ada sifat perubahan dalam kesehatan. Dan kami di sini berupaya negosiasi meminta pendampingan dari pihak KBRI," ujar Yusup saat dihubungi NadiKabar, Sabtu (22/8/2026).

Upaya mediasi telah berulang kali buntu. Pihak KBRI Riyadh sempat menawarkan jalan tengah berupa pembagian beban biaya (sharing) sebesar 50 persen tim redaksi majikan dan pihak pekerja. Namun, majikan Gopar tetap bergeming dan menolak mengeluarkan uang sepeser pun.

"Dari majikan tidak mampu untuk mengeluarkan biaya dengan jumlah 27.000 Riyal dengan alasan tidak sanggup. Walaupun pernah dinegosiasi sama pihak KBRI, waktu itu ada istilah negosiasi 50%-50%, tapi dari pihak majikan sendiri tidak sanggup mengeluarkannya sama sekali," tutur Yusup.

Di balik peliknya nasib Gopar, terkuak pula bayang-bayang keterlibatan sponsor berinisial H di kampung halamannya, yang memberangkatkan Gopar enam tahun lalu melalui skema calling visa. Kini, sponsor tersebut diduga lepas tangan dari derita yang menimpa pekerja yang diberangkatkannya tersebut.