Korupsi bukan semata-mata persoalan lemahnya pengawasan atau buruknya sistem administrasi. Di balik penyalahgunaan wewenang terdapat pilihan moral seseorang yang mengetahui aturan, memahami konsekuensi, tetapi tetap memilih mengambil sesuatu yang bukan haknya. Bahkan, kecerdasan dapat membuat penyimpangan berlangsung lebih sistematis dan sulit terdeteksi.

Pendidikan tidak cukup berhenti pada kemampuan akademik. Sekolah perlu membentuk karakter yang membuat pengetahuan memiliki arah dan batas. Prabowo menyampaikan bahwa pemimpin unggul harus memiliki kelebihan dalam otak, badan, jiwa, dan hati. Orang pintar yang memiliki hati jahat, katanya, justru sangat berbahaya karena dapat melahirkan penderitaan, ketidakadilan, dan bencana.

Persoalannya, karakter sedemikian tidak terbentuk hanya melalui pelajaran di ruang kelas. Integritas harus menjadi pengalaman sehari-hari, mulai dari bagaimana seseorang memperoleh kesempatan, menghadapi persaingan, mematuhi aturan, hingga menjalankan tanggung jawab. Pendidikan karakter akan kehilangan makna jika lingkungan pendidikan sendiri membiarkan ketidakjujuran memperoleh keuntungan.