Program tersebut diarahkan pada 52 PLTU dengan total kapasitas 18,9 gigawatt (GW).

Pemanfaatan cofiring memungkinkan biomassa digunakan dengan memanfaatkan infrastruktur pembangkit yang telah tersedia.

Ke depan, menurut Anita, ekosistem bioenergi PLN EPI tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit PLN, tetapi juga berpotensi melayani industri domestik, independent power producer (IPP), hingga pasar ekspor.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya PLN EPI membangun portofolio bisnis rendah karbon di tengah transformasi sektor energi.

PLN EPI tetap menjaga keandalan bisnis energi primer eksisting, meliputi batu bara, gas, dan bahan bakar, sembari memperkuat bioenergi sebagai salah satu platform pertumbuhan bisnis rendah karbon.

Strategi tersebut diarahkan untuk mendukung pengurangan emisi, penciptaan nilai ESG, sekaligus membuka peluang bisnis baru berbasis sumber daya domestik.

Di tingkat PLN Group, lanjut Anita, pengembangan bioenergi juga menjadi bagian dari strategi dekarbonisasi menuju net zero emissions (NZE) pada 2060 bersama pengembangan energi terbarukan, dedieselisasi, penyimpanan energi, hidrogen dan amonia, CCS/CCUS, serta teknologi pembangkitan lainnya.

"Melalui pengembangan tersebut, PLN EPI mendorong bioenergi berkembang dari sekadar sumber bahan bakar pembangkit menjadi ekosistem bisnis energi yang menghubungkan potensi sumber daya domestik dengan kebutuhan listrik, industri, bahan bakar, hingga pasar ekspor, sekaligus memperkuat transformasi PLN EPI menuju integrated primary energy solutions provider," jelasnya.