NADIKABAR.COM — PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) membidik pemanfaatan 60,6 juta ton biomassa, yang belum termanfaatkan, sebagai salah satu basis pengembangan ekosistem bioenergi ke depan.
VP Strategi & Pengembangan Bisnis Biomassa PLN EPI Anita Puspita Sari, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, mengatakan PLN EPI terus mendorong pengembangan bioenergi sebagai salah satu solusi untuk mendukung transisi energi sekaligus membuka sumber pertumbuhan bisnis baru.
Strategi tersebut telah diperkenalkan PLN EPI melalui ajang Enlit Asia MKI Electricity Connect 2026 dengan mengembangkan potensi sumber daya domestik menjadi berbagai produk energi, mulai dari biomassa, biochar, syngas, biohidrogen, compressed biogas (CBG), biofuel, hingga bioetanol.
Kehadiran PLN EPI di ajang itu sekaligus menjadi momentum untuk memperkenalkan transformasi perusahaan dari penyedia energi primer menuju integrated primary energy solutions provider.
Transformasi tersebut memperluas kapabilitas PLN EPI dari pengelolaan pasokan gas dan BBM, batu bara, serta biomassa menuju pengembangan infrastruktur, layanan, inovasi teknologi dan solusi energi yang mendukung keandalan pasokan sekaligus percepatan transisi energi.
Anita mengatakan Indonesia memiliki sumber daya bioenergi yang besar dari berbagai jenis limbah pertanian, perkebunan, kehutanan, industri, hingga sampah perkotaan.
"PLN EPI sedang mengembangkan bioenergi sebagai jalur strategis untuk mengubah potensi feedstock domestik Indonesia yang melimpah menjadi solusi energi berkelanjutan," katanya.
Menurut Anita, pengembangan bioenergi tidak berhenti pada pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar pembangkit.
Berbagai jenis feedstock dapat diolah menjadi produk energi dan produk bernilai tambah melalui proses dan teknologi yang berbeda.
PLN EPI memetakan sejumlah jalur pengembangan bioenergi, meliputi biomassa, biochar, syngas, biohidrogen, CBG, waste management, biofuel dan bioetanol.
Biomassa dengan tingkat pengolahan rendah hingga tinggi dapat dimanfaatkan untuk mendukung program cofiring PLTU, memenuhi kebutuhan industri, maupun menyasar pasar ekspor.
Pada pengolahan lebih lanjut, biochar dapat dihasilkan antara lain melalui proses torrefaction dan pirolisis.
Sementara, syngas dikembangkan melalui gasifikasi biomassa dan berpotensi mendukung program dedieselisasi pada pembangkit berbahan bakar minyak.
Anita menambahkan PLN EPI juga melihat peluang pengembangan biohidrogen untuk memenuhi kebutuhan industri, termasuk industri pupuk, serta membuka peluang sebagai bahan bakar berkelanjutan untuk pasar ekspor.
Sementara, CBG dipetakan sebagai salah satu alternatif untuk cofiring dengan natural gas pada pembangkit gas.
"Pengembangan biofuel dan bioetanol juga membuka ruang kolaborasi dengan perusahaan lain," sebutnya.
Di sektor ketenagalistrikan, pemanfaatan biomassa melalui cofiring menjadi salah satu implementasi bioenergi, yang telah dikembangkan PLN.
Program tersebut diarahkan pada 52 PLTU dengan total kapasitas 18,9 gigawatt (GW).
Pemanfaatan cofiring memungkinkan biomassa digunakan dengan memanfaatkan infrastruktur pembangkit yang telah tersedia.
Ke depan, menurut Anita, ekosistem bioenergi PLN EPI tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit PLN, tetapi juga berpotensi melayani industri domestik, independent power producer (IPP), hingga pasar ekspor.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya PLN EPI membangun portofolio bisnis rendah karbon di tengah transformasi sektor energi.
PLN EPI tetap menjaga keandalan bisnis energi primer eksisting, meliputi batu bara, gas, dan bahan bakar, sembari memperkuat bioenergi sebagai salah satu platform pertumbuhan bisnis rendah karbon.
Strategi tersebut diarahkan untuk mendukung pengurangan emisi, penciptaan nilai ESG, sekaligus membuka peluang bisnis baru berbasis sumber daya domestik.
Di tingkat PLN Group, lanjut Anita, pengembangan bioenergi juga menjadi bagian dari strategi dekarbonisasi menuju net zero emissions (NZE) pada 2060 bersama pengembangan energi terbarukan, dedieselisasi, penyimpanan energi, hidrogen dan amonia, CCS/CCUS, serta teknologi pembangkitan lainnya.
"Melalui pengembangan tersebut, PLN EPI mendorong bioenergi berkembang dari sekadar sumber bahan bakar pembangkit menjadi ekosistem bisnis energi yang menghubungkan potensi sumber daya domestik dengan kebutuhan listrik, industri, bahan bakar, hingga pasar ekspor, sekaligus memperkuat transformasi PLN EPI menuju integrated primary energy solutions provider," jelasnya.