NADIKABAR.COM — PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menargetkan pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar pembangkit listrik hingga 10 juta ton per tahun, sekaligus membuka peluang penciptaan 150 ribu lapangan kerja hijau (green jobs).

"Kalau kita hitung berdasarkan teknologi pembangkit, untuk PLTU dengan teknologi PC kita dorong pemanfaatan biomassa hingga 10 persen, CFB di atas 25 persen dan stoker di atas 70 persen. Jika seluruh potensi itu dikalkulasikan, kebutuhan biomassa PLN bisa mencapai sekitar 8 juta –10 juta ton," ujar Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Hokkop menjelaskan bahwa peningkatan pemanfaatan biomassa menjadi bagian dari strategi PLN EPI dalam mempercepat transisi energi, mengurangi ketergantungan terhadap batu bara, sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi dari limbah pertanian, perkebunan dan kehutanan.

Sejak pertama kali diterapkan pada 2020, program cofiring terus berkembang dan hingga 2025 telah diimplementasikan di 52 PLTU dengan total pemanfaatan biomassa mencapai 2,352 juta ton.

Untuk mendukung peningkatan pemanfaatan tersebut, PLN EPI terus mendorong penguatan kualitas biomassa, khususnya dari sisi nilai kalor, kadar air dan karakteristik material.

Pengolahan biomassa menjadi produk seperti wood pellet dan wood chip juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesesuaian bahan bakar dengan kebutuhan teknologi pembangkit.

Dari sisi realisasi, pemanfaatan biomassa PLN menunjukkan tren pertumbuhan signifikan dalam lima tahun terakhir. Volume cofiring meningkat dari 9.728 ton pada 2020 menjadi 282.581 ton pada 2021, kemudian 585.663 ton pada 2022, dan 1,006 juta ton pada 2023. Angka tersebut kembali meningkat menjadi 1,624 juta ton pada 2024 dan 2,352 juta ton pada 2025.

Sementara itu, hingga 26 Oktober 2026, realisasi pemanfaatan biomassa mencapai 1,842 juta ton. Sejalan dengan pengembangan program, jumlah jenis biomassa yang dimanfaatkan secara berkelanjutan juga meningkat dari tiga jenis pada 2020 menjadi 18 jenis pada Oktober 2026.

Rata-rata nilai kalor biomassa turut meningkat dari 2.520 kilokalori per kilogram menjadi 3.440 kilokalori per kilogram, mencerminkan upaya peningkatan kualitas bahan bakar untuk mendukung optimalisasi pembangkit.

PLN EPI telah mengidentifikasi sekitar 70 jenis biomassa yang pernah diuji atau dimanfaatkan, dengan 18 jenis di antaranya telah memasok secara berkelanjutan ke pembangkit. Jenis biomassa tersebut antara lain tongkol jagung, sekam padi, cangkang sawit, limbah kayu, serta berbagai residu pertanian dan perkebunan.

Meski memiliki potensi sumber daya yang besar, pengembangan biomassa nasional masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari persaingan pasar ekspor, keterbatasan fasilitas pengolahan, tingginya biaya logistik, hingga belum terintegrasinya rantai pasok dari hulu hingga hilir.

Karena itu, PLN EPI mendorong penguatan kebijakan yang dapat memberikan prioritas bagi pemanfaatan biomassa untuk kebutuhan energi domestik.

Hokkop mengusulkan agar sekitar 30 persen dari potensi biomassa yang dapat dimanfaatkan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Kebijakan tersebut dinilai dapat membantu memperkuat kepastian pasokan bahan baku, meningkatkan skala industri biomassa nasional, sekaligus mendukung pencapaian target pemanfaatan biomassa untuk pembangkit listrik.

"Kami tidak meminta seluruh produksi biomassa dialokasikan untuk PLN. Kami hanya meminta sekitar 30 persen untuk kebutuhan domestik. Dengan alokasi tersebut, pemanfaatan biomassa untuk PLN berpotensi mencapai sekitar 10 juta ton," katanya.