Melalui model subhub dan hub, biomassa dari sejumlah sumber di tingkat desa dapat dikumpulkan, diolah, dan dikonsolidasikan sebelum disalurkan ke pembangkit.

Model ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi logistik sekaligus menjaga kualitas, kuantitas, dan kontinuitas pasokan biomassa.

Menurut Mamit, pengembangan Biodes diproyeksikan mampu menghasilkan tambahan pasokan biomassa hingga 15.000 ton per tahun, melibatkan 330 petani, memanfaatkan 106 hektare lahan marjinal, serta menciptakan 25 lapangan kerja baru.

Program ini juga diproyeksikan memberikan tambahan pendapatan bagi petani kecil hingga Rp100.000 per hari per pekerja.

Sementara dari aspek lingkungan, pemanfaatan biomassa melalui program tersebut diproyeksikan berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca sekitar 6.750 ton CO2e.

Ke depan, roadmap Biodes mencakup pengembangan ke desa-desa di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur, serta dilanjutkan dengan pengembangan bersama mitra pemasok di luar Pulau Jawa serta scale-up pada berbagai lokasi PLTU cofiring.

Secara bertahap, Biodes ditargetkan dapat dikembangkan hingga 100 desa untuk memperkuat ekosistem pasokan biomassa sekaligus membuka peluang pengembangan bisnis beyond kWh.