Dewan tersebut memiliki 15 anggota. China, Prancis, Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat memegang kursi tetap dan dapat memveto resolusi non-prosedural, sementara 10 anggota lainnya dipilih untuk masa jabatan dua tahun tanpa hak veto. Jepang sendiri telah lama mengupayakan kursi tetap.

Takaichi menyoroti penggunaan hak veto oleh Rusia terhadap resolusi terkait invasi mereka ke Ukraina sebagai bukti badan tersebut gagal menjalankan tanggung jawabnya dalam menjaga perdamaian internasional. Dia juga menyebutkan kemajuan program senjata nuklir dan rudal Korea Utara serta aktivitas siber yang berbahaya sebagai pelanggaran nyata terhadap resolusi Dewan Keamanan yang menimbulkan ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan internasional.

Takaichi juga menegaskan kembali 'dukungan konsisten' Jepang terhadap Mahkamah Kriminal Internasional atau ICC yang belakangan ini menghadapi serangan bertubi-tubi dari Presiden AS Donald Trump. Takaichi juga mengidentifikasi beberapa prioritas, termasuk memperkuat rantai pasokan energi dan material penting, memperluas kerja sama demi perdamaian dan stabilitas, serta menjaga tatanan internasional yang bebas dan terbuka berdasarkan supremasi hukum.

"Tantangan-tantangan ini tidak dapat diselesaikan oleh satu negara yang bertindak sendirian," ujarnya. Kini, lebih dari sebelumnya, bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa harus dijunjung tinggi.