Dalam aksi unjuk rasa kemarin, mereka menyuarakan 10 butir tuntutan.
10 tuntutan itu antara lain penetapan kebakaran hutan sebagai bencana nasional, jaminan pekerjaan layak, penarikan militer ke barak, penghentian kriminalisasi rakyat dan perampasan tanah, serta penghapusan program MBG. Massa juga mendesak pendidikan gratis, penggunaan anggaran yang berpihak pada rakyat, perlindungan hak pengemudi ojol, dan pengusutan tuntas kasus korupsi Mandala Krida.
Forum Cik Di Tiro (FCD) sebagai bagian dari AJM pada malam kemarin mengeluarkan keterangan tertulis, menyampaikan pernyataan bahwa aksi publik di Titik Nol telah dinyatakan selesai pada pukul 18.00 WIB secara damai. Kendati, masih terdapat massa yang menggabungkan diri ke aksi lain di DPRD DIY.
FCD menilai kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan bagi aparat untuk melakukan intimidasi atau tindakan represif terhadap massa di kawasan Malioboro dan sekitarnya.
FCD juga menyoroti penanganan aparat pada malam hari yang disebut melibatkan pengerahan pasukan berlebihan, penyemprotan water cannon, penembakan gas air mata, hingga pemukulan. Akibatnya, sejumlah peserta aksi dan warga sipil dilaporkan terkepung serta kesulitan mengakses jalur pulang yang aman.
Kharisma Wardhatul Khusniah dari BARA Adil mengecam tindakan tersebut. Pihaknya mengingatkan p engamanan semestinya menjamin keselamatan warga, bukan meningkatkan risiko jatuhnya korban.
Selain itu, FCD meminta aparat tidak melibatkan organisasi kemasyarakatan (ormas) dalam pengamanan karena dinilai berpotensi memicu benturan horizontal dan provokasi. Mereka juga mengecam pemberitaan atau penggiringan opini yang berfokus pada kericuhan untuk mengaburkan substansi tuntutan massa.