NADIKABAR.COM — Sembilan puluh delapan tahun lalu, pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai perkumpulan daerah berikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa dalam Kongres Pemuda II di Batavia. Bung Karno kelak merangkum keyakinan zaman itu: "Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia."
Pada tahun yang sama, sosiolog Karl Mannheim menerbitkan esai Das Problem der Generationen. Ia berpendapat bahwa sebuah generasi tidak ditentukan oleh tahun kelahiran, melainkan oleh pengalaman bersama yang membentuknya di masa muda.
Generasi 1928 ditempa kolonialisme. Generasi Z hari ini ditempa algoritma, pandemi, dan arus informasi yang tak pernah berhenti. Perbedaan pengalaman itulah yang kini menantang kepolisian. Semangat 'Polisi Bersama Masyarakat' yang digagas Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto memberi pijakan untuk menjawabnya: pemolisian masa depan dibangun dengan mengajak generasi muda berdialog dan terlibat, bukan dengan menceramahi mereka.
Tantangannya terukur. Survei APJII 2026 mencatat 89 persen Gen Z telah terhubung ke internet. Data PPATK triwulan I 2025 menunjukkan anak berusia 10-16 tahun menyetor lebih dari Rp2,2 miliar ke situs judi daring. Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat 48 persen anak pengguna internet pernah dirundung secara daring. Ancaman paling senyap datang dari jaringan teror.
Densus 88 Antiteror Polri mencatat 110 anak berusia 10-18 tahun di 23 provinsi terjerat rekrutmen sepanjang 2025, sebagian melalui fitur obrolan gim daring, padahal pada 2011-2017 jumlahnya hanya 17 anak. Di sisi lain, BPS melaporkan pengangguran terbuka nasional pada Mei 2026 turun ke 4,65 persen, terendah sejak 1994, tetapi pada usia 15-24 tahun justru naik menjadi 17,37 persen. Kesepian, perundungan, dan ketiadaan pekerjaan adalah lahan subur bagi siapa pun yang menawarkan rasa memiliki.
Setiap generasi memiliki "bahasa" sendiri dalam berhubungan dengan negara. Generasi baby boomer tumbuh di era siaran tunggal, ketika informasi resmi datang dari satu arah dan jarang dipertanyakan. Generasi X dan milenial mengalami Reformasi 1998 dan pemisahan Polri dari ABRI, sehingga terbiasa membandingkan sumber dan menuntut akuntabilitas.
Generasi Z melangkah lebih jauh: mereka tidak hanya mengonsumsi informasi, tetapi ikut memproduksinya. Riset McKinsey (2018) menjuluki mereka True Gen, generasi pencari kebenaran yang lebih menghargai dialog daripada instruksi. Jonathan Haidt dalam The Anxious Generation (2024) mengingatkan sisi rapuhnya: perpindahan masa kecil ke layar ponsel ikut memicu lonjakan kecemasan remaja. Konsekuensinya, pemolisian tidak bisa lagi berhenti pada sosialisasi satu arah. Ketika saluran resmi dirasa lambat, generasi ini beralih ke media sosial, dan fenomena No Viral, No Justice menjadi gejalanya.