Wujud paling mendasar dari ko-produksi itu adalah resiliensi. Youth-oriented policing tidak berhenti pada menjaga anak muda, tetapi membangun daya tahan mereka. Cara kerjanya mirip vaksin. Vaksin tidak menjauhkan tubuh dari virus, melainkan memperkenalkan ancaman dalam dosis aman agar tubuh membentuk kekebalannya sendiri. Psikolog sosial William McGuire merumuskan gagasan serupa pada awal 1960-an sebagai teori inokulasi. Sander van der Linden dari Universitas Cambridge kemudian menunjukkan bahwa paparan dini terhadap teknik manipulasi, yang dikenal sebagai prebunking, membuat orang lebih kebal terhadap misinformasi.
Pemolisian berorientasi kepemudaan bekerja dengan logika yang sama. Remaja yang sejak dini diajak mengenali modus judi daring, pola perekrutan ekstremis, dan rekayasa deepfake akan lebih siap menolak ketika ancaman itu benar-benar datang. Salah satu wujud nyatanya adalah Program Paham AI.
Bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Polri menyiapkan instruktur dari 12 Polda untuk mengajarkan pelajar SMA dan SMK cara memanfaatkan kecerdasan buatan secara aman dan etis, termasuk mengenali deepfake dan kejahatan siber berbasis AI. Targetnya menjangkau 10 juta pelajar. Program ini menjawab langsung dua risiko yang disorot WEF, yakni misinformasi dan dampak buruk AI. Inilah vaksin digital bagi generasi muda: mereka tidak hanya dilindungi dari teknologi, tetapi dibekali untuk menguasainya.
Begawan hukum Satjipto Rahardjo mengingatkan bahwa hukum ada untuk manusia, bukan manusia untuk hukum. Program apa pun baru bermakna bila keberhasilannya diukur dari perubahan yang dirasakan anak muda, bukan dari banyaknya kegiatan. Anak muda tidak mencari polisi yang sempurna. Mereka mencari polisi yang jujur, mau mendengar, dan dapat dipercaya.
Ketika Indonesia genap berusia seratus tahun pada 2045, pelajar yang hari ini menyambut polisi di ruang kelas mereka akan menjadi tulang punggung bangsa. Kekebalan yang dibangun hari ini adalah bekal mereka menghadapi ancaman yang belum terbayangkan, sekaligus menjaga republik ini pada usia emasnya.
Para pemuda 1928 mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Sembilan puluh delapan tahun kemudian, polisi dan pemuda dapat mengikat ikrar baru: satu tekad menjaga negeri ini bersama. Seperti dua tangan yang saling menggenggam dalam logo 'Polisi Bersama Masyarakat' yang digagas Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto, pemolisian masa depan tidak dibangun untuk generasi muda, melainkan bersama mereka.
Ribut Hari Wibowo. Inspektur Jenderal Polisi dan mahasiswa Master of Global Risk di Johns Hopkins University.