Ia mengatakan sejumlah barang bukti tambahan telah diserahkan kepada penyidik, antara lain rekaman pengakuan oknum pimpinan pondok pesantren serta video rekaman istri pimpinan pondok pesantren tersebut.
Joko menambahkan, selain satu korban yang sebelumnya melapor, hasil identifikasi LPA menemukan sedikitnya lima santri yang diduga menjadi korban oknum pimpinan pondok pesantren tersebut.
"Hanya saja sebagian korban ada di Mesir dan ini yang membuat salah satu tantangan dari pengungkapan kasus ini. Mengingat alat bukti yang cukup kuat adalah yang di Mesir ini ada dua orang," ujarnya.
Menurut Joko, dari lima korban yang teridentifikasi terdapat korban yang diduga mengalami percobaan pemerkosaan dan sebagian lainnya mengalami pelecehan secara fisik.
"Ada dugaan dari lima korban ada korban yang sampai disetubuhi, namun menurutnya korban tersebut besar kemungkinan tidak mau membongkar kasus itu," katanya.
Ia mengatakan tidak seluruh korban bersedia menjadi pelapor karena diduga masih menghadapi pertimbangan tertentu.
"Jadi dari lima korban ini tidak semua berpihak ke kita sebagai pelapor, bisa jadi karena takut atau lebih membela pelaku," ujarnya.