NADIKABAR.COM — Polresta Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, mendalami laporan dugaan pelecehan seksual terhadap santriwati yang diduga dilakukan oknum pimpinan pondok pesantren di Desa Bungkate, Kecamatan Jonggat.
"Yang jelas penanganan perkara ini menjadi prioritas utama kami, termasuk mengawal hak santri yang mungkin masih takut melapor," kata Kasatreskrim Polresta Lombok Tengah AKP Punguan Hutahaean di Lombok Tengah, Selasa.
Punguan mengatakan perkara tersebut telah dilaporkan kepada polisi pada Februari 2025. Penyidik kemudian melakukan komunikasi dan pemeriksaan awal terhadap pihak terkait.
"Hanya saja karena kemungkinan para korban ada pertimbangan lain, sehingga memilih untuk investigasi dulu," katanya.
Ia menjelaskan setelah pemeriksaan awal dilakukan, komunikasi dengan korban sempat terputus. Berdasarkan pemantauan terakhir, sejumlah korban bersama barang bukti yang dikuasai berada di Mesir.
Punguan mengatakan pihaknya telah mendatangi pondok pesantren yang diduga menjadi lokasi kejadian. Dari kunjungan itu, penyidik menemukan pihak ponpes cenderung tertutup.
Karena itu, penyidik membuka ruang komunikasi bagi pihak yang memiliki informasi terkait kasus tersebut untuk menyampaikan keterangan dan menyerahkan barang bukti secara terbuka.
"Jadi sekarang baru diserahkan barang bukti maka kami akan proses cepat," ujarnya.
Ia menegaskan pimpinan pondok pesantren yang diduga terlibat hingga kini belum diamankan karena proses penanganan perkara masih berlangsung.
Menurut Punguan, penyidik saat ini memfokuskan pemeriksaan terhadap para saksi, kemudian saksi korban dan pelapor. Polisi memastikan penanganan perkara akan dipercepat.
"Informasi yang kami dapatkan pihak Ponpes meliburkan siswa sampai hari Kamis dan pimpinan Ponpes belum diamankan, masih di Mataram," katanya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Mataram Joko Jumadi mengatakan pihaknya telah memantau kasus tersebut sejak 2024.
Joko mengatakan LPA pada 3 Februari 2025 telah menyampaikan laporan pengaduan kepada Polresta Lombok Tengah dengan satu orang korban.
"Hanya saja saat itu pihaknya memahami alat bukti yang diperoleh masih sangat minim, sehingga kami bersama wartawan BBC melakukan investigasi dan akhirnya ada beberapa alat bukti yang bisa kami dapatkan, sehingga hari ini kami menyampaikan ke Polresta Lombok Tengah," katanya.
Ia mengatakan sejumlah barang bukti tambahan telah diserahkan kepada penyidik, antara lain rekaman pengakuan oknum pimpinan pondok pesantren serta video rekaman istri pimpinan pondok pesantren tersebut.
Joko menambahkan, selain satu korban yang sebelumnya melapor, hasil identifikasi LPA menemukan sedikitnya lima santri yang diduga menjadi korban oknum pimpinan pondok pesantren tersebut.
"Hanya saja sebagian korban ada di Mesir dan ini yang membuat salah satu tantangan dari pengungkapan kasus ini. Mengingat alat bukti yang cukup kuat adalah yang di Mesir ini ada dua orang," ujarnya.
Menurut Joko, dari lima korban yang teridentifikasi terdapat korban yang diduga mengalami percobaan pemerkosaan dan sebagian lainnya mengalami pelecehan secara fisik.
"Ada dugaan dari lima korban ada korban yang sampai disetubuhi, namun menurutnya korban tersebut besar kemungkinan tidak mau membongkar kasus itu," katanya.
Ia mengatakan tidak seluruh korban bersedia menjadi pelapor karena diduga masih menghadapi pertimbangan tertentu.
"Jadi dari lima korban ini tidak semua berpihak ke kita sebagai pelapor, bisa jadi karena takut atau lebih membela pelaku," ujarnya.