"Korban kedua tangannya dipegang ke belakang, lalu mata hingga mulut ditutup dengan dasi pramuka (tersisa hidung yang terbuka) lalu ditindih hingga yang menyebabkan luka robek di telinganya lalu korban juga sempat dipukul oleh buku," kata ayah korban saat dihubungi, Senin (28/9).
Dia menduga luka terbuka di kuping korban karena tertindih dan terkena ring kacu pramuka. Dia mengatakan bullying itu terjadi tiba-tiba setelah mereka bercanda saling lempar karet lapangan sintetis.
Dia mengatakan lokasi perundungan tersebut tak ter-cover pantauan CCTV sekolah. Kepada psikolog, korban mengatakan kasus perundungan itu diduga melibatkan anak wakil menteri (wamen).
"Orang tua salah satu pelaku yang tidak hadir itu merupakan salah satu wakil menteri. Yang mana anak beliau sangat menyebabkan trauma pada korban, berikut terlampir tulisan korban saat ke psikolog, yang disebut adalah anak dari wamen tersebut. Sayangnya hingga detik ini, beliau belum ada sama sekali menemui keluarga korban," ungkapnya.
Proses mediasi sempat digelar di sekolah. Namun, pihak korban kecewa karena orang tua dari terduga pelaku utama tersebut hanya diwakili paman dalam proses mediasi.
Korban juga kecewa karena terduga pelaku hanya diberi sanksi surat peringatan (SP). Kekecewaan bertambah karena terduga pelaku masih disertakan dalam kejuaraan olahraga yang mewakili sekolah.
"Di tanggal 8 September 2026 itu juga kami memutuskan untuk mengeluarkan korban dari sekolah tersebut (tentunya atas permintaan korban juga)," ucap dia.