NADIKABAR.COM β Panggung geopolitik global hari ini memperlihatkan sebuah kontras yang cukup mendalam.
Di satu sisi, koridor diplomasi dan markas pertahanan disibukkan oleh kalkulasi transaksi alat utama sistem senjata (alutsista) bernilai puluhan miliar dolar.
Pada saat bersamaan, sepanjang September hingga Oktober 2026, gelombang unjuk rasa massa dan ketegangan sipil merebak di berbagai belahan dunia, mulai dari Paris (Prancis), Tirana (Albania), hingga Quito (Ekuador) dan La Paz (Bolivia).
Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto terus bergerak melakukan modernisasi militer melalui skema multi-alignment.
Langkah ini mencakup komitmen pengadaan 24 unit jet tempur F-15EX dan 24 helikopter Black Hawk dari Amerika Serikat, 42 jet tempur Dassault Rafale dan kapal selam Scorpène Evolved dari Prancis, hingga rencana pengadaan jet tempur Chengdu J-10 senilai 9 miliar dolar AS dari China (SIPRI 2026).
Sementara itu, Reuters melaporkan ratusan ribu warga di Prancis turun ke jalan memblokir depo BBM serta pelabuhan sebagai bentuk penolakan atas pengetatan anggaran dan kenaikan harga energi.
Di Albania, aksi protes yang mendesak pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama turut diwarnai bentrokan di luar gedung pemerintahan, menurut laporan Euronews.
Dinamika yang mempertemukan besarnya anggaran pertahanan dengan gejolak sosial di tingkat publik ini mencerminkan tingginya tingkat ketidakpastian dalam tatanan internasional yang kian terfragmentasi.
Tatanan dunia saat ini berada dalam fase pergeseran struktural yang mendasar. Integrasi ekonomi global yang terjalin erat dalam beberapa dekade terakhir berangsur melonggar dan terbelah menjadi blok-blok regional yang saling bersaing.
Analis geopolitik Ian Bremmer menggolongkan kondisi ini sebagai era G-Zero, sebuah situasi di mana tidak ada satu pun kekuatan utama yang dominan dalam mengarahkan agenda global, sehingga memicu lahirnya tatanan multipolar terfragmentasi (Eurasia Group, 2026).