Untuk mencapai target tersebut, pihaknya telah mengandalkan sejumlah langkah. Pertama, program hilirisasi. Menurut Budi, program hilirisasi merupakan program strategis karena dapat menarik investor secara mandiri berkat ketersediaan komoditas dalam negeri. Saat ini hilirisasi tidak hanya berfokus pada industri pengolahan smelter, tetapi juga berlanjut hingga produk-produk turunannya.
Kedua, substitusi impor. Budi menyoroti masih tingginya angka impor untuk barang konsumsi hingga permesinan. Hal ini membuktikan bahwa pasar Indonesia masih sangat besar dan selama ini dinikmati oleh para pelaku usaha di luar negeri.
Di sektor kesehatan, Budi menyebut sekitar Rp 200 triliun per tahunnya lenyap karena banyak masyarakat Indonesia memilih berobat ke luar negeri. Melalui KEK Kesehatan di Sanur, Bali, pemerintah berupaya menarik masyarakat untuk mendapatkan layanan medis berstandar internasional di dalam negeri.
"Nantinya ini yang substitusi impor ini menjadi perhatian kita juga. Mana-mana yang bisa nih. Kalau Anda mau market kita, berproduksilah di sini," imbuhnya.