Maka pragmatisme kebijakan fiskal sudah saatnya mendapatkan ruang. Pragmatisme bukan berarti mengabaikan disiplin fiskal, melainkan memastikan setiap keputusan anggaran mampu menjawab kebutuhan nyata perekonomian tanpa mengorbankan keberlanjutan keuangan negara.

Tekanan fiskal yang berlangsung saat ini tidak terlepas dari perkembangan geopolitik dan pasar keuangan internasional.

Kenaikan harga minyak mentah meningkatkan kebutuhan subsidi serta kompensasi energi, sementara penguatan dolar Amerika Serikat memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.

Dalam perhitungan Nota Keuangan, setiap kenaikan harga minyak sebesar satu dolar AS per barel dapat meningkatkan beban fiskal hingga miliaran bahkan triliunan rupiah, bergantung pada parameter anggaran. Kondisi ini menunjukkan pentingnya kemampuan pemerintah mengantisipasi perubahan harga energi melalui kebijakan yang tepat.