NADIKABAR.COM β Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengatakan, Jakarta Timur menjadi wilayah yang memiliki embung paling banyak di ibu kota.
"Saya menyampaikan kepada Bu Ika (Kepala Dinas SDA Jakarta), termasuk kepada Wali Kota Jakarta Timur ini, pasti di Jakarta Timur (Munjirin) embungnya paling banyak," kata Pramono saat meresmikan Embung Batu Bangkong dan Embung Batu Hitam di Cipayung, Jakarta Timur, Senin.
Pramono menjelaskan, embung berfungsi menampung air hujan agar tidak langsung dialirkan ke tempat lain. Selain itu, air yang tertampung dapat meresap ke dalam tanah.
Untuk itu, Pramono mengatakan, pembangunan embung akan terus dilakukan sebagai langkah pencegahan banjir di Jakarta.
Selain itu, Pemprov DKI juga tetap melanjutkan normalisasi sejumlah sungai, di antaranya Ciliwung, Cakung Lama, dan Krukut, serta pembangunan waduk.
"Intinya adalah Pemerintah DKI Jakarta dalam hal berkaitan dengan penanganan banjir tidak hanya serta-merta kalau hujan baru dilakukan kegiatannya ataupun penanganannya. Kita lebih pada pencegahan," ujar Pramono.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta Ika Agustin mengatakan, Pemprov DKI membangun embung di tiga lokasi sepanjang 2026.
Ketiga lokasi tersebut adalah Embung Kebagusan dan Cilandak Pondok Labu di Jakarta Selatan, serta Sunter Hulu di Jakarta Utara.
Selain itu, ada tiga embung yang telah terbangun, yakni Embung Batu Bangkong dan Embung Batu Hitam di Jakarta Timur serta Embung Aseni di Jakarta Barat.
Adapun Embung Batu Bangkong memiliki luas 1,3 hektare dengan kapasitas tampung sekitar 20.300 meter kubik air.
Sementara itu, Embung Batu Hitam memiliki luas 2,1 hektare dengan kapasitas tampung sekitar 16.250 meter kubik air.
Kedua embung tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat penampungan air, tetapi juga dilengkapi fasilitas publik, yakni jogging track, taman bermain anak, lapangan multifungsi, dan balai warga.
Ika menjelaskan, pembangunan embung lebih banyak dilakukan di Jakarta Timur karena masih banyak lahan yang berpotensi dimanfaatkan, baik berupa aset milik Pemprov DKI Jakarta maupun lahan fasilitas sosial dan fasilitas umum (fasos-fasum).
βKarena potensi lahan yang belum dimaksimalkan di wilayah Jakarta Timur masih banyak baik itu aset DKI maupun lahan fasos fasum. Sehingga kita akan memaksimalkan lokasi-lokasi tersebut khususnya untuk konsep integrasi hijau dan biru,β papar Ika.
Karena itu, Dinas SDA DKI Jakarta akan memaksimalkan pemanfaatan lahan tersebut, khususnya untuk pengembangan konsep integrasi ruang hijau dan pengelolaan air.
Pada 2026, Pemprov DKI juga akan memperluas Embung Sunter Hulu di kawasan Tiu, Jakarta Utara.
βDi Tiu Sunter Hulu kita besarkan kembali kapasitasnya luasnya menjadi lima hektare,β kata Ika.