Saham hasil buyback akan dicatat sebagai treasury stock dan dapat disimpan maksimal tiga tahun setelah periode buyback berakhir. Periode pelaksanaan buyback ditetapkan selama tiga bulan, yakni 20 Agustus hingga 19 November 2026.

GMFI tengah mengembangkan bisnis Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) untuk segmen pertahanan. Perseroan menargetkan kontribusi pendapatan dari bisnis tersebut mencapai 20% pada 2030.

Target ini meningkat dibandingkan kontribusi yang diproyeksikan sekitar 10% pada 2026. Pengembangan segmen pertahanan dilakukan seiring kebutuhan pemeliharaan armada yang berpotensi meningkat dalam program modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista).

GMFI juga melihat peluang dari layanan MRO untuk pesawat militer. Pada semester I 2026, pendapatan perseroan tercatat US$114,94 juta, tumbuh 20,53% secara tahunan. Laba bersih naik 78,28% menjadi US$6,76 juta.

Untuk sepanjang 2026, GMFI mematok target pendapatan US$542,79 juta dan laba bersih US$34,47 juta.

Pengembangan bisnis pertahanan perseroan turut didukung penyelesaian modernisasi pesawat C-130H Hercules. Selain itu, GMFI mengembangkan Kertajati Aerospace Park yang diarahkan menjadi ekosistem MRO pertahanan.

Perseroan juga membuka peluang memperluas layanan MRO pertahanan ke pasar internasional.

ENRG mencatat peningkatan kinerja pada semester I 2026. Pendapatan perseroan mencapai US$283,37 juta, naik 18,51% dibandingkan US$239,11 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan juga terlihat pada EBITDA yang meningkat 24,82% secara tahunan menjadi US$186,28 juta dari US$149,23 juta.

Laba bersih ENRG turut tumbuh 26,37% menjadi US$45,22 juta, dibandingkan US$35,78 juta pada 1H25. Kinerja tersebut terutama didukung kontribusi aset minyak dan gas yang sudah berproduksi.

Dari perdagangan saham, ENRG masih bergerak dalam fase konsolidasi dalam jangka pendek. Saham tersebut juga telah mengalami rejection pada area support. Secara teknikal, ENRG memiliki peluang bergerak menuju level Rp1.345.