Pertama, memperkuat keandalan operasi perusahaan. Dalam hal ini Chandra Asri menjaga keberlanjutan produksi agar tidak terjadi unplanned shutdown yang merugikan, serta memastikan pasokan bahan baku petrokimia bagi industri hilir dalam negeri tetap aman tanpa harus bergantung sepenuhnya pada impor.

Kedua, melakukan diversifikasi dan transformasi Bisnis. Perusahaan mulai mengembangkan pilar bisnis baru di luar petrokimia yang fluktuatif, yakni sektor energi, infrastruktur terintegrasi, dan solusi mobilitas.

Ketiga, Chandra Asri juga mengakselerasi pembangunan proyek strategis pabrik Chlor-Alkali / Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon untuk menyokong industri ekstraksi nikel dan alumina nasional.

Suryandi menambahkan pentingnya dukungan berkesinambungan bagi industri petrokimia hulu nasional agar Indonesia mampu mandiri dan tidak kalah bersaing dengan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand, maupun Vietnam.

"Hasil produksi dari Chandra Asri adalah untuk memenuhi kebutuhan produk petrokimia di Indonesia, yang sampai saat ini pun masih net impor. Masih net impor yang mungkin sekitar masih 40% atau mungkin hampir 50% untuk produk-produk tertentu," tuturnya.

"Jadi Chandra Asri itu pada awalnya adalah dibangun, ya tentu saja kita harus selalu minta support dari pemerintah untuk supaya industri ini jangan sampai kalah. Jangan sampai kalah dengan Singapura, dengan Malaysia, dengan China, dengan Vietnam," pungkas Suryandi.