NADIKABAR.COM — Senat Universitas Mulawarman (Unmul) menetapkan Prof Dr Rudianto Amirta sebagai Rektor Terpilih periode 2026-2030 dengan visi membawa kampus bersaing global berbasis kekuatan hutan tropis.

"Proses Pemilihan Rektor Unmul berjalan secara transparan, akuntabel, dan tertib sesuai dengan seluruh ketentuan regulasi yang berlaku," kata Ketua Senat Unmul Prof Haviluddin usai Rapat Senat Tertutup di Samarinda, Rabu.

Haviluddin menjelaskan bahwa pelaksanaan Rapat Senat Tertutup tersebut dihadiri sebanyak 90 anggota yang memberikan hak pilihnya secara langsung di dalam tempat pemungutan suara bersama perwakilan kementerian.

"Komposisi perolehan suara akhir mencakup porsi 65 persen suara senat dan 35 persen suara dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dengan total 138 suara sah," ujar Haviluddin.

Hasil penghitungan suara akhir mencatat Prof Rudianto Amirta berhasil meraup 74 suara mengungguli calon petahana Prof Abdunnur yang memperoleh 64 suara.

Sementara itu calon rektor lainnya yakni Prof Fahrul Agus tidak memperoleh dukungan suara dalam tahapan pemungutan akhir Rapat Senat Tertutup tersebut.

"Proses penghitungan surat suara dilaksanakan secara terbuka serta disaksikan cermat oleh dua saksi anggota senat yakni Prof Esti Handayani dan Prof Supriyatna," tutur Haviluddin.

Prof Haviluddin menegaskan bahwa tahapan pemilihan rektor kali ini memiliki dinamika perolehan yang berbeda dibandingkan dengan tahapan penyaringan awal sebelumnya.

Pada tahap penyaringan awal sebelumnya Prof Abdunnur sempat meraih 65 suara, sedangkan Prof Rudianto Amirta mengantongi 24 suara dari jajaran anggota senat.

Prof Dr Rudianto Amirta lahir di Pemangkat, Kalimantan Barat, pada 25 Oktober 1972. Dia merupakan Guru Besar di Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis Universitas Mulawarman yang kini dikukuhkan sebagai Rektor Terpilih Unmul untuk masa jabatan 2026–2030.

Prof Rudianto menyelesaikan studi Sarjana (S1) Teknologi Hasil Hutan di Universitas Mulawarman pada tahun 1996. Kemudian melanjutkan jenjang Magister (S2) di bidang yang sama pada perguruan tinggi yang sama hingga lulus tahun 2000, sebelum akhirnya meraih gelar Doktor (S3) bidang Applied Life Science dari Kyoto University, Jepang, pada tahun 2005.

Rekam jejak kepemimpinan akademis sebelumnya ialah Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman selama dua periode berturut-turut, yakni periode 2016–2020 dan 2020–2024. Selain itu, juga pernah dipercaya mengemban tugas sebagai Direktur Kantor Urusan Internasional (KUI) Unmul serta Kepala UPT Double Degree Unmul.

Sebagai seorang akademisi, kepakaran Prof Rudianto berfokus pada teknologi hasil hutan, biomassa, degradasi lignin dengan pemanfaatan jamur white-rot, dan pengembangan energi terbarukan melalui pengolahan kayu untuk fermentasi metana.

Riset-riset dia secara aktif didedikasikan mendukung hilirisasi energi biomassa dan pengelolaan sumber daya alam berbasis hutan tropis lembab Kalimantan.

Prof Rudianto telah menerima Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya X Tahun dari Presiden Republik Indonesia pada tahun 2010, Juara 1 Sang Penemu dari LPP TVRI Jakarta pada tahun 2014, serta Nominasi Penghargaan Energi Prakarsa Nasional dari Badan Litbang Kementerian ESDM RI pada tahun 2016.

Mengusung slogan "Unmul Berdaya, Unmul Bermartabat, Unmul untuk Kita Semua: Transformasi yang Terukur, Adaptif, dan Berkelanjutan", dia menetapkan visi untuk membawa Universitas Mulawarman menjadi perguruan tinggi yang unggul, mandiri, bermartabat, serta berdaya saing nasional maupun internasional berbasis kekuatan ekosistem hutan dan lingkungan tropis lembab Kalimantan.

Visi tersebut ditopang oleh delapan pilar misi utama pembangunan kampus, meliputi penguatan tata kelola bermartabat, peningkatan kesejahteraan civitas akademika, pencapaian kemandirian finansial, akselerasi riset dan rekognisi global, pendorongan Unmul sebagai katalisator Nusantara, penjaminan kesuksesan mahasiswa, pelaksanaan pengabdian masyarakat yang berkeadilan, hingga mewujudkan ekosistem kampus yang berkelanjutan.