NADIKABAR.COM — Beragam kesempatan karier baru bermunculan di tengah perkembangan industri kecerdasan buatan (AI) berwujud China, mulai dari melatih lengan robotik hingga membangun area berlatih virtual untuk robot-robot pemeriksa.
Pada September 2026, Kementerian Sumber Daya Manusia dan Jaminan Sosial China beserta jajaran lembaga pemerintahan lainnya mengumumkan 11 profesi baru, termasuk teknisi penerapan robot AI berwujud dan insinyur kembaran digital.
Di Sevnce Robotics yang beroperasi di Liangjiang New Area, Kota Chongqing, China barat daya, Tang Zixiang bekerja sebagai teknisi penerapan robot AI berwujud yang bertugas melatih robot-robot AI berwujud untuk menjalankan sejumlah tugas.
Tang akan menyesuaikan posisi dan sudut beberapa kenop untuk menyimulasi beragam kondisi kerja dan menggunakan data yang dihasilkan untuk melatih model AI. Ia kemudian menerapkan model-model yang sudah dilatih tersebut ke lengan-lengan robotik untuk pengujian dan penyempurnaan lebih lanjut.
Melalui rangkaian pengujian berulang, robot-robot itu perlahan mempelajari tugas dalam simulasi sebelum mengaplikasikannya di dunia nyata.
"Kami bertugas membantu robot-robot berpindah dari ruangan uji coba ke penerapan lebih luas di dunia nyata," kata Tang.
Sevnce Robotics mengembangkan robot-robot spesialis untuk industri migas, kimia, dan energi. Mesin-mesin mereka bisa menggantikan atau membantu pengawas manusia di lingkungan berbahaya.
Di lingkungan tersebut, robot harus bisa beroperasi secara andal untuk jangka panjang. Tang beserta rekan-rekannya perlu mengatur persyaratan kecepatan dan akurasi, menguji apakah robot dapat pulih dari kegagalan operasi, serta menentukan kapan robot harus berhenti dan/atau membutuhkan intervensi manusia.
"Kami bertujuan mengubah robot yang bekerja di ruang uji coba menjadi mesin yang bisa aman beroperasi dan diandalkan untuk jangka panjang," ujar Tang.
Selain teknisi penerapan robot AI berwujud, terdapat juga insinyur kembaran digital, profesi baru lain yang diakui dan secara umum bertugas membantu menyiapkan agar robot mampu ditugaskan di dunia nyata.
Jiang Lei, yang menekuni bidang itu, bertugas membangun lingkungan virtual sebagai tempat robot-robot pemeriksa melatih ulang tugas mereka sebelum penempatan.
Menggunakan rekonstruksi tiga dimensi (3D), tim Jiang membangun tiruan digital pabrik, memberi kesempatan para robot melatih ulang rute tugas pemeriksaan mereka dan memeriksa apakah kamera mereka bisa menangkap pembacaan instrumen. Setelah tugas-tugas itu tervalidasi dalam simulasi, mereka bisa dipindahkan ke robot fisik.
Umumnya, para teknisi akan membawa robot ke situs kerja sebelum memetakan lingkungan sekeliling, menyusun rute dan menentukan titik pemeriksaan, kata Jiang.
Namun, kembaran digital memungkinkan pekerjaan tersebut dilatih ulang secara simulasi, memangkas waktu dari 2-3 pekan menjadi 2-3 hari saja. Simulasi itu juga menghasilkan data untuk pengujian dan pelatihan algoritma, mengurangi durasi serta ongkos pengumpulan data di lingkungan dunia nyata.
Seiring rantai indsutri kian terspesialisasi, terbuka pula peluang karier bagi orang-orang dari berbagai latar belakang pendidikan.
Jiang misalnya, ia mempelajari teknik mesin kendaraan di universitas berpindah dari penelitian kemudi otonom ke pengembangan robot yang membutuhkan keahlian dalam permodelan, pemrograman, dan simulasi 3D.
Sedangkan Tang, yang memiliki latar belakang S1 dan S2 di bidang ilmu komptuer, mengaplikasikan pembelajaran penguatan dan imitasi ke dalam pelatihan robot sembari terus mendalami kinematika robot dan kontrol gerak.
Pertumbuhan industri AI berwujud juga meningkatkan kebutuhan ahli dalam bidang pengumpulan data, pelatihan model, serta pengoperasian, pemeliharaan, dan pengaturan sistem.
Baru-baru ini Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China merilis data bahwa terdapat lebih dari 400 model robot humanoid di negara tersebut dan sepanjang semester pertama 2026 telah diproduksi 40.000 unit robot humanoid.
Upaya untuk melatih tenaga kerja di sektor tersebut juga semakin gencar dilakukan. Pada awal Oktober 2026, Universitas Kota Beijing (BCU) meluncurkan program pelatihan talenta berketerampilan tinggi dalam penerapan dan praktik AI berwujud. Program tersebut menawarkan studi intensif lima hari yang menggabungkan pengajaran di kelas dan praktik langsung bersama robot nyata bagi pekerja industri.
Tang mengaku berharap robot akan melengkapi pekerja manusia, alih-alih sekadar menggantikan mereka.
"Saya berharap robot akan mengambil alih pekerjaan yang lebih berbahaya, membosankan, dan repetitif," katanya.