Jiang misalnya, ia mempelajari teknik mesin kendaraan di universitas berpindah dari penelitian kemudi otonom ke pengembangan robot yang membutuhkan keahlian dalam permodelan, pemrograman, dan simulasi 3D.
Sedangkan Tang, yang memiliki latar belakang S1 dan S2 di bidang ilmu komptuer, mengaplikasikan pembelajaran penguatan dan imitasi ke dalam pelatihan robot sembari terus mendalami kinematika robot dan kontrol gerak.
Pertumbuhan industri AI berwujud juga meningkatkan kebutuhan ahli dalam bidang pengumpulan data, pelatihan model, serta pengoperasian, pemeliharaan, dan pengaturan sistem.
Baru-baru ini Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China merilis data bahwa terdapat lebih dari 400 model robot humanoid di negara tersebut dan sepanjang semester pertama 2026 telah diproduksi 40.000 unit robot humanoid.
Upaya untuk melatih tenaga kerja di sektor tersebut juga semakin gencar dilakukan. Pada awal Oktober 2026, Universitas Kota Beijing (BCU) meluncurkan program pelatihan talenta berketerampilan tinggi dalam penerapan dan praktik AI berwujud. Program tersebut menawarkan studi intensif lima hari yang menggabungkan pengajaran di kelas dan praktik langsung bersama robot nyata bagi pekerja industri.
Tang mengaku berharap robot akan melengkapi pekerja manusia, alih-alih sekadar menggantikan mereka.
"Saya berharap robot akan mengambil alih pekerjaan yang lebih berbahaya, membosankan, dan repetitif," katanya.