Kemudian, Syahganda lanjut mengambil studi doktoral di FISIP UI, kemudian lulus dengan disertasi berjudul "Analisa Pengaruh Jaminan Upah Layak, Jaminan Sosial, dan Solidaritas Sosial terhadap Kesejahteraan Buruh".
Disertasi itu diuji dalam sidang terbuka pada 17 Januari 2015 yang dipimpin Dekan FISIP UI kala itu, Dr. Arie Setiabudi Soesilo.
Dalam riset disertasinya itu, Syahganda menyimpulkan jaminan upah layak, jaminan sosial, dan solidaritas sosial berpengaruh secara simultan terhadap kesejahteraan buruh.
Seiring dengan perjalanannya di dunia akademis, Syahganda juga lama aktif berkarier sebagai politikus.
Pada awal-awal reformasi saat masa pemerintahan Presiden Ke-3 Republik Indonesia B.J. Habibie, Syahganda dikenal dekat dengan Adi Sasono, yang kala itu menjabat Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah.
Kedekatan itu pula yang mendorong Syahganda mendirikan ormas Daulat Rakyat dengan ketuanya Cacuk Sudaryanto, yang saat itu menjabat Direktur Jenderal Koperasi di Kementerian Koperasi.
Ormas tersebut kemudian melembaga menjadi partai dan ikut pemilihan umum pada tahun 1999.
Namun, lengsernya Habibie juga turut berpengaruh terhadap perjalanan politik Syahganda. Ia lanjut terlibat dalam pembentukan Partai Merdeka bersama Adi Sasono.
Pada tahun 2004, Syahganda kemudian maju untuk pertama kalinya sebagai calon anggota legislatif (caleg) dari Daerah Pemilihan Tangerang. Walaupun demikian, saat itu ia tak mengumpulkan suara yang cukup dan langkahnya terhenti untuk melenggang ke Senayan.
Dalam periode pemerintahan Presiden Ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Syahganda pernah terafiliasi singkat dengan PPP, kemudian maju kembali sebagai caleg bersama Partai Golkar pada Pemilu 2009.