"Pada dasarnya manusia bukan hanya makhluk biologis, tetapi juga makhluk psikologis dan sosial yang membutuhkan hubungan emosional yang aman," katanya.
"Keluarga tidak harus menjadi terapis bagi anggota keluarganya. Namun, keluarga dapat menjadi tempat pertama di mana seseorang merasa aman untuk mengatakan 'saya sedang tidak baik-baik saja'," ia menambahkan.
Ketika mendapati anggota keluarga yang terlihat menarik diri atau menutup diri, Efnie mengatakan, anggota keluarga yang lain sebaiknya tidak memaksanya untuk bercerita, tetapi berusaha memahami bahwa mungkin dia belum merasa cukup aman untuk mengungkapkan apa yang sedang dialami dan dirasakan.
Ia mengemukakan bahwa seseorang mungkin memilih untuk menutup diri karena takut dihakimi, tidak ingin menjadi beban, merasa malu, atau belum mampu memahami emosinya sendiri.
Psikolog yang tergabung dalam Asosiasi Neuropsikologi Indonesia - Himpunan Psikologi Indonesia itu mengatakan, keterbukaan emosional membutuhkan rasa aman dan kepercayaan.
Guna menghadirkan rasa aman dan kepercayaan, anggota keluarga yang lain bisa menemani anggota keluarga yang sedang menghadapi masalah melakukan aktivitas ringan, mengajaknya bicara tanpa menginterogasi, menawarkan bantuan praktis, atau memberikan perhatian tanpa menuntut respons.