"Keluarga dapat mengatakan 'aku melihat belakangan ini kamu tampak lebih banyak diam. Aku tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi, tetapi kalau suatu saat kamu ingin bercerita, aku siap mendengarkan'," kata Efnie.
Menurut dia, ucapan semacam itu memberikan tiga pesan psikologis penting, yakni "Saya memperhatikan kamu, saya peduli padamu, dan saya ada untukmu."
Efnie mengingatkan bahwa keterbukaan tidak boleh dijadikan sebagai sebuah tuntutan, karena tidak semua orang mampu mengungkapkan pengalaman emosional melalui komunikasi verbal secara langsung.
Bagi individu tertentu, kebersamaan, perhatian kecil, dan hubungan yang konsisten bisa menghadirkan kenyamanan.
"Prinsipnya, jangan memaksa seseorang membuka pintu emosinya. Bangunlah rasa aman sehingga ia merasa cukup percaya untuk membukanya sendiri," kata Efnie.
Kendati demikian, ia melanjutkan, apabila mendapati risiko keselamatan maka keluarga perlu melakukan tindakan pelindungan meskipun individu yang sedang menghadapi masalah belum siap bercerita.