NADIKABAR.COM — Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, S.Psi, M.Psi, Psikolog menyampaikan pentingnya dukungan keluarga dan orang-orang dalam proses pemulihan kesehatan mental seseorang.
"Penting dipahami bahwa dukungan keluarga bukan berarti harus selalu memberikan solusi. Terkadang, kehadiran yang menenangkan justru jauh lebih bermakna daripada nasihat yang datang terlalu cepat," katanya kepada NadiKabar di Jakarta, Sabtu.
Dosen di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha itu menyampaikan bahwa orang yang mengalami tekanan psikologis berkepanjangan, sistem respons stres di otak dan tubuhnya dapat menjadi lebih aktif.
Menurut dia, kondisi itu dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengelola emosi, berpikir jernih, mengambil keputusan, dan melakukan kegiatan sehari-hari.
Dalam keadaan yang demikian, ia mengatakan, kehadiran keluarga yang suportif dapat membantu memberikan rasa aman secara psikologis.
Menurut dia, perasaan diterima, dimengerti, dan tidak mendapat penghakiman dapat membantu orang mengelola tekanan emosional secara lebih baik.
Efnie mengemukakan bahwa keluarga idealnya bisa menghadirkan lingkungan yang memungkinkan seseorang merasa aman menjadi dirinya sendiri, termasuk ketika kesehatan mentalnya sedang kurang baik.
"Pada dasarnya manusia bukan hanya makhluk biologis, tetapi juga makhluk psikologis dan sosial yang membutuhkan hubungan emosional yang aman," katanya.
"Keluarga tidak harus menjadi terapis bagi anggota keluarganya. Namun, keluarga dapat menjadi tempat pertama di mana seseorang merasa aman untuk mengatakan 'saya sedang tidak baik-baik saja'," ia menambahkan.
Ketika mendapati anggota keluarga yang terlihat menarik diri atau menutup diri, Efnie mengatakan, anggota keluarga yang lain sebaiknya tidak memaksanya untuk bercerita, tetapi berusaha memahami bahwa mungkin dia belum merasa cukup aman untuk mengungkapkan apa yang sedang dialami dan dirasakan.
Ia mengemukakan bahwa seseorang mungkin memilih untuk menutup diri karena takut dihakimi, tidak ingin menjadi beban, merasa malu, atau belum mampu memahami emosinya sendiri.
Psikolog yang tergabung dalam Asosiasi Neuropsikologi Indonesia - Himpunan Psikologi Indonesia itu mengatakan, keterbukaan emosional membutuhkan rasa aman dan kepercayaan.
Guna menghadirkan rasa aman dan kepercayaan, anggota keluarga yang lain bisa menemani anggota keluarga yang sedang menghadapi masalah melakukan aktivitas ringan, mengajaknya bicara tanpa menginterogasi, menawarkan bantuan praktis, atau memberikan perhatian tanpa menuntut respons.
"Keluarga dapat mengatakan 'aku melihat belakangan ini kamu tampak lebih banyak diam. Aku tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi, tetapi kalau suatu saat kamu ingin bercerita, aku siap mendengarkan'," kata Efnie.
Menurut dia, ucapan semacam itu memberikan tiga pesan psikologis penting, yakni "Saya memperhatikan kamu, saya peduli padamu, dan saya ada untukmu."
Efnie mengingatkan bahwa keterbukaan tidak boleh dijadikan sebagai sebuah tuntutan, karena tidak semua orang mampu mengungkapkan pengalaman emosional melalui komunikasi verbal secara langsung.
Bagi individu tertentu, kebersamaan, perhatian kecil, dan hubungan yang konsisten bisa menghadirkan kenyamanan.
"Prinsipnya, jangan memaksa seseorang membuka pintu emosinya. Bangunlah rasa aman sehingga ia merasa cukup percaya untuk membukanya sendiri," kata Efnie.
Kendati demikian, ia melanjutkan, apabila mendapati risiko keselamatan maka keluarga perlu melakukan tindakan pelindungan meskipun individu yang sedang menghadapi masalah belum siap bercerita.