NADIKABAR.COM — Psikolog klinis senior Ratih Ibrahim mengingatkan para orang tua agar tidak ikut tantrum saat menangani tantrum anak.
"Kalau anaknya lagi tantrum, apalagi di usia toddler, usia balita, ibunya jangan ikutan tantrum. Karena anak jadi belajar bahwa, 'oh ini ternyata boleh kayak begini', kalau ibunya tantrum," katanya dalam acara diskusi yang diikuti di Jakarta, Kamis.
"Jadi kalau ibunya tantrum, anaknya jadi makin tantrum. Anak akan belajar bahwa emotional regulation-nya jadi persis kayak ibunya," kata anggota Tim Ahli Program Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan itu.
Alih-alih marah dan emosi, ia mengatakan, orang tua sebaiknya berusaha memahami dan membantu anak mengenali emosi yang sedang dirasakan serta mengendalikan emosinya. Misalnya dengan mengucapkan, "Iya mama ngerti, ibu ngerti ya kamu kesal."
Tindakan semacam itu dapat membantu menghadirkan kesadaran pada diri anak bahwa memiliki perasaan negatif adalah hal yang wajar dan mereka tetap dicintai.
Selain membantu anak mengenali dan menyadari perasaannya, Ratih mengatakan, orang tua harus mengajarkan batasan dalam mengekspresikan perasaan agar anak tidak meluapkan perasaan dengan cara yang merusak.
Ratih menyampaikan bahwa ada kalanya orang tua menyalahkan benda mati ketika mendapati anak kesal setelah terjatuh atau terluka.
"Dari situ anak justru jadi tidak belajar, tidak ada self awareness, pemahaman bahwa ini adalah emosi yang biasa saja," kata Ratih.
Anak-anak perlu dilatih untuk mengenali dan menyadari perasaan serta membangun kecerdasan emosional agar bisa tumbuh menjadi pribadi yang adaptif dan memiliki ketahanan dalam menghadapi masalah.
Ratih mengatakan bahwa anak yang tidak memiliki kecerdasan emosional memadai lebih rentan mengalami masalah kesehatan mental.
Menurut data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey tahun 2022 satu dari tiga remaja Indonesia yang berusia antara 10 dan 17 tahun mengalami masalah kesehatan mental.
Gangguan kesehatan mental yang paling banyak dialami remaja menurut hasil survei adalah gangguan cemas (gabungan antara fobia sosial dan gangguan cemas menyeluruh), diikuti oleh gangguan depresi mayor, dan gangguan perilaku.
Guna mencegah masalah kesehatan mental di kemudian hari, anak-anak perlu dilatih untuk membangun kecerdasan emosional sejak dini.
Orang tua bisa membantu anak membangun kecerdasan emosional dengan mengajari anak melakukan regulasi emosi dan mencontohkan pengendalian emosi.