Seiring berjalannya waktu, pengguna yang terbiasa dihujani pujian digital atas aktivitas sehari-hari mulai mengharapkan tingkat pengakuan yang sama di dunia nyata, baik di lingkungan kerja, kampus, maupun relasi personal.
"Kondisi ini menimbulkan jurang frustrasi (frustration gap) ketika interaksi sehari-hari gagal menyamai dunia maya yang serba cepat dan serba instan," kata Reed.
Ketika harapan tersebut tidak terwujud di dunia nyata, kekecewaan dapat dengan cepat berubah menjadi kemarahan atau amarah yang didasari rasa berhak diistimewakan.
Reed juga menyoroti bahwa sebagian besar konten di media sosial merupakan hasil kurasi ketat yang hanya menonjolkan pencapaian akhir tanpa memperlihatkan kerja keras, pengorbanan, serta kegagalan di baliknya. Hal ini mendistorsi cara pandang seseorang terhadap proses pencapaian yang sebenarnya.