Lebih lanjut, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya memperingatkan bahwa negara-negara kawasan akan dianggap "terlibat" jika mereka "berpihak pada agresi" AS.
"Kami memperingatkan jika negara-negara di kawasan ini -- dengan terus menerapkan kebijakan bermuka dua terhadap Republik Islam Iran -- berpihak pada agresi 'Setan Besar' terhadap Iran yang kuat dan berdaulat, maka mereka semua akan dianggap terlibat dalam tindak kejahatan ini dan tidak dapat lagi mengharapkan sikap menahan diri atau kesantunan dari Angkatan Bersenjata Iran yang tangguh," tegas Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa mereka akan menyerang target-target baru dan mengerahkan senjata baru, jika Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap Teheran.
Selama hampir tujuh bulan konflik berlangsung, Teheran dan Washington masih terjebak dalam jalan buntu. Meskipun kedua negara tampaknya tidak ingin kembali ke perang berskala penuh.
"Jika terjadi agresi baru, kami tentu akan mengubah persenjataan dan cakupan wilayah perang," kata juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP dan Reuters, Senin (21/9)
Mohebbi menambahkan bahwa pasukan IRGC siap menghadapi "perang berkepanjangan". Dia juga menyatakan bahwa "pasti akan ada perubahan signifikan dalam pertahanan dan serangan balasan kami" jika terjadi serangan baru dari AS.
"Kami akan menghadirkan senjata-senjata baru dengan kemampuan baru di medan perang, dan dunia akan terkejut," cetusnya.
"Target-target kami juga belum tentu sama seperti sebelumnya. Kami memiliki target-target baru yang belum pernah diserang," ujar Mohebbi dalam pernyataannya.