Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag Miftah Farid menekankan Indonesia harus proaktif mencari ceruk pasar alternatif di tengah stagnasi pasar Eropa.

Ia menyebutkan berdasarkan data ITC Export Potential Map, kelapa sawit Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk diekspansi.

Selain memperkuat pasar yang sudah established melalui pendekatan G-to-G seperti di China dan India, Indonesia melihat peluang di Pakistan dan Filipina.

"Sebagai bentuk nyata penciptaan nilai ekonomi yang inklusif, kolaborasi ini juga menyepakati integrasi PTPN IV PalmCo ke dalam program prioritas 'Desa Bisa Ekspor'," ucapnya.

Miftah menambahkan, sebagai pilot project, pemberdayaan produk akan difokuskan pada komoditas gambir di Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat.

Inisiatif itu diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani daerah penghasil, menyelesaikan masalah di sektor hulu, dan meningkatkan daya saing melalui penguatan standardisasi hilirisasi komoditas.

"Kerja sama ini diharapkan bukan sekadar penandatanganan dokumen di atas kertas, tetapi terwujud dalam intelijen pasar yang presisi, fasilitasi bisnis dengan pembeli internasional, serta bertambahnya volume ekspor dan kemitraan global berkelanjutan bagi Indonesia," katanya.