"Sejarah telah menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi dapat berubah menjadi kekuatan politik, yang pada gilirannya dapat digunakan untuk melanggengkan ketidaksetaraan sosial dan ekonomi," ungkap Puan.
"Akibatnya, demokrasi politik tidak akan pernah benar-benar substantif jika kekuatan ekonomi terkonsentrasi sedemikian rupa sehingga suara minoritas kecil menjadi jauh lebih menentukan daripada suara masyarakat umum," lanjutnya.
Menurut Puan, parlemen memiliki posisi strategis dalam memastikan suara rakyat diterjemahkan ke dalam undang-undang, anggaran, pengawasan, dan kebijakan publik.
"Legitimasi demokrasi tidak berakhir ketika pemilihan umum selesai. Hal itu harus terus diperbarui melalui keputusan negara yang adil, transparan, dan akuntabel, serta memberikan hasil nyata bagi rakyat," tegas Puan. Selain mengikuti sidang, Puan bertemu dengan tiga kandidat Presiden IPU ke-32. Mereka yakni Sahiba Gafarova, Ketua Parlemen Azerbaijan Milton Dick, Ketua DPR Australia dan Rojo Edwards Silva, Senator Parlemen Chile.
Puan juga dijadwalkan mengikuti pemungutan suara pemilihan Presiden IPU. Voting akan digelar Jumat (9/10).
Puan juga melakukan pertemuan bilateral dengan sejumlah pimpinan parlemen negara anggota IPU, di antaranya Thailand dan Georgia.