"Menghadapi tantangan tersebut, kita tidak dapat hanya bertumpu pada kepemimpinan satu orang atau satu kelompok saja, melainkan harus menjadi agenda dan tanggung jawab bersama seluruh komponen bangsa untuk melakukan perubahan yang bermakna atau transformasi," papar Puan.
Menurut Puan, perubahan bermakna atau transformasi bukan sekadar perubahan kebijakan atau pergantian orang, melainkan perubahan cara berpikir dan cara kerja yang membawa perubahan nyata.
"Kita membutuhkan kerja bersama dalam menjalankan agenda transformasi, di mana kepemimpinan transformatif harus tumbuh di seluruh lembaga negara, dengan agenda utama untuk memperkuat dan mempertajam cara pikir dan cara kerja yang semakin menempatkan tata kelola negara yang berorientasi pada kepentingan bangsa dan negara," urainya.
Lebih lanjut, Puan menekankan pentingnya tata kelola kewenangan dan pelayanan yang dapat memberikan kenyamanan, kesejahteraan, dan ketenteraman kepada rakyat.
"Kita pasti telah mengetahui dan memahami, perubahan cara pikir dan cara kerja, yang bagaimana yang harus dilakukan? Apa yang seharusnya dan sebaiknya dilakukan dalam tata kelola kelembagaan," ungkapnya.
"Kewenangan dan pelayanan seperti apa sebaiknya kepada rakyat? Kita memahami pentingnya tata kelola yang transparan, kewenangan yang bertanggung jawab, serta pelayanan publik yang terbaik," tambahnya.
Di balik semua itu, Puan mengajak forum untuk merenungkan mengapa tidak semua hal dapat dilaksanakan secara efektif meski para pemimpin telah memahami berbagai wawasan tersebut.
"Perubahan ternyata tidak cukup hanya menjadi pengetahuan dan dipahami, tetapi harus diwujudkan dalam tatanan sosial, politik, ekonomi dan budaya," ungkap Puan.
Puan juga menyebut transformasi tidak cukup hanya dengan memahami apa yang harus diubah. Transformasi juga menuntut kemauan untuk memperbaiki diri, keberanian menghadapi risiko, dan keteladanan untuk memulai dari tanggung jawab masing-masing.
"Kita tidak perlu menunggu semua keadaan menjadi ideal untuk melakukan perubahan. Kita juga tidak perlu menunggu pihak lain untuk melakukan perubahan," jelasnya.
"Yang diperlukan adalah kemauan untuk mulai mengambil langkah demi langkah menjalankan tanggung jawab masing-masing, memperbaiki apa yang berada dalam kewenangannya, dan memastikan setiap langkah benar-benar dapat menghadirkan manfaat bagi perubahan," lanjut Puan.
Puan mengatakan kepemimpinan transformatif dapat membuka jalan perubahan. Namun, kemajuan bangsa tidak lahir dari kepemimpinan seorang tokoh semata.
"Diperlukan kekuatan kolektif untuk bertindak bersama. Rakyat, masyarakat sipil, dunia usaha, kaum intelektual, seluruh komponen bangsa dan lembaga negara harus mengambil tanggung jawab sesuai perannya," kata Puan.