Korban lainnya, pria berinisial R mengatakan istrinya juga ikut terjebak dalam investasi tersebut. Awalnya, sang istri diajak oleh rekannya untuk berinvestasi dengan membeli produk yang ditawarkan melalui aplikasi teknologi hijau.

R mengungkapkan produk yang ditawarkan antara lain berkaitan dengan panel surya. Perusahaan juga menjanjikan keuntungan berdasarkan jenis dan nilai produk yang dibeli investor.

"Mengiming-imingi keuntungan yang lumayan signifikan, dengan cara membeli suatu produk, suatu produk, yaitu dengan berkedok aplikasi tekno investasi teknologi hijau, ya seperti panel surya, yang berhubungan dengan hal-hal seperti itu, yang mana ketika kita membeli suatu produk tersebut, menjanjikan keuntungan bisa dalam harian, mingguan, bulanan, sampai tahunan, tergantung pembelian suatu produk tersebut apa-apa saja," tutur dia.

Selain keuntungan investasi, para anggota juga dijanjikan cashback berupa voucher yang diklaim dapat diuangkan dalam bentuk dolar Amerika Serikat (USD). Besaran keuntungan dan cashback disebut bergantung pada jumlah produk yang dibeli.

"Semakin banyak kita membeli suatu produk tersebut, kita akan kita akan masuk ke dalam suatu circle yang mana sesuai dengan rate pembelian kita, rate pembelian kita, dan juga kita juga diiming-imingi seperti cashback dalam bentuk klaim voucher yang mana itu bisa diuangkan dalam bentuk USD," ucap dia.

R membeberkan sistem investasi mulai bermasalah pada Agustus 2025. Para investor pun kesulitan menarik dana, baik keuntungan maupun modal yang telah disetorkan, dengan alasan aplikasi sedang menjalani pemeliharaan atau maintenance.

Hingga September 2025, aplikasi tersebut semakin sulit diakses dan akhirnya tidak bisa dibuka. Kondisi itu membuat para anggota panik karena tidak dapat menarik uang mereka.