Nilai ekonomi juga diperoleh dari pengolahan maggot. Budidaya maggot mulai dijalankan sejak Juni 2026 dengan memanfaatkan sampah organik dari aktivitas di rest area.
Dalam sehari, kebutuhan sampah organik untuk budidaya maggot mencapai sekitar 12-15 kilogram. Dari proses tersebut, produksi maggot diperkirakan mencapai 20-30 kilogram dalam sebulan.
Sebagian maggot dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele dan nila yang dibudidayakan di kawasan rest area. Sebagian lainnya dijual untuk kebutuhan pakan ikan, termasuk kepada toko pancing.
Maggot tersebut dijual dalam kemasan sekitar 45 gram dengan harga Rp4 ribu. Saat ini, produk maggot telah memasok sekitar empat toko dengan pendapatan sekitar Rp150 ribu per pekan.
"Kalau untuk maggot, kita sudah dijual keluar untuk di toko pancing, untuk pakan pancing. Satu cup 45 gram harganya Rp 4.000," ujar Taufik.
"Dari maggot sudah menghasilkan rata-rata Rp150 ribu per minggu. Saat ini yang kita suplai baru empat toko pancing," sambungnya.
Tak hanya itu, Taufik menjelaskan, maggot tersebut juga dimanfaatkan sebagai pakan ikan untuk mendukung ekosistem di tempatnya. Ikan yang dibudidayakan terdiri dari lele dan nila.
Hingga kini, budidaya tersebut telah melalui dua kali panen. Pada panen perdana, hasil ikan dibagikan kepada karyawan, khususnya mereka yang membantu pengelolaan tempat penampungan sampah (TPS) di rest area.