Ke depan, Taufik berencana memperbesar budidaya ikan dan menambah kapasitas bak maggot yang saat ini baru mempunyai delapan bak. Hasil budidaya ikan juga berpeluang dipasarkan kepada tenant yang berjualan di rest area.

"Ke depannya mungkin kita bisa berkolaborasi dengan tenant, sehingga lele yang kita produksi bisa dijual ke tenant di sini," tuturnya.

Sekedar diketahui, dalam sehari Rest Area KM 164 menghasilkan sekitar 800 kilogram sampah pada hari biasa. Volume tersebut meningkat menjadi sekitar 900 kilogram hingga 1 ton per hari saat long weekend.

Dengan sistem pemilahan dan pengolahan yang diterapkan, Taufik menyebut hanya sebagian sampah yang berakhir sebagai residu. Sekitar 40 persen dari total sampah disebut masih menjadi residu yang belum dapat diolah.

"Yang dibuang itu hanya residu. Dengan adanya ini sangat efektif, karena residu yang kita buang hanya sekitar 40 persen dari sampah keseluruhan," ujarnya.

Selain maggot dan ikan, hasil pengolahan juga dimanfaatkan untuk mendukung pertanian sederhana di kawasan rest area. Pupuk organik digunakan untuk tanaman seperti cabai, terong, dan tomat.

Bagi Taufik, pemilahan sampah bukan hanya persoalan mengurangi timbulan sampah. Lebih dari itu, sampah yang sebelumnya menjadi beban justru dapat diubah menjadi sumber ekonomi.

"Pemilahan ini sangat efektif, karena bisa untuk pemberdayaan masyarakat," pungkasnya.