NADIKABAR.COM β PT Pupuk Indonesia (Persero) menjajaki peluang kerja sama dengan Badan Pengusahaan (BP) Batam untuk memanfaatkan gas alam sebagai bahan baku pengembangan industri amonia, yang berpotensi sebagai bahan bakar masa depan (future fuel) sektor maritim.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan Batam memiliki peluang untuk mengambil bagian dalam rantai pasok bahan bakar maritim masa depan, sekaligus memperkuat pemanfaatan gas alam untuk menghasilkan produk bernilai tambah di dalam negeri.
"BP Batam ternyata akan membangun ekosistem maritim yang di dalamnya itu ada future fuel, yang sebagian besarnya adalah amonia. Nah, untuk amonia ini, kami adalah produsen yang sangat besar," kata Rahmad ketika ditemui seusai beraudiensi dengan BP Batam di Kota Batam, Kepri, Senin.
Rahmad mengatakan pengembangan industri amonia di Batam berpotensi mendukung perubahan kebutuhan bahan bakar sektor pelayaran global.
Hal itu sejalan dengan arah pengembangan bahan bakar kapal rendah atau tanpa emisi karbon yang tengah menjadi perhatian industri maritim internasional.
Ia mencontohkan perkembangan Singapura yang selama puluhan tahun membangun industri pengolahan minyak dan layanan pengisian bahan bakar kapal (bunkering), sehingga berkembang menjadi salah satu pusat layanan bahan bakar maritim dunia.
Ke depan, menurutnya, amonia berpeluang menjadi salah satu bahan bakar alternatif dalam ekosistem maritim.
Sejumlah negara juga mulai mengembangkan fasilitas pelabuhan untuk mendukung layanan pengisian bahan bakar amonia, termasuk di kawasan Asia Pasifik.
Rahmad mengatakan dalam hal ini Pupuk Indonesia akan membangun pabrik amonia yang memiliki kapasitas produksi tujuh juta ton per tahun, terbesar di kawasan Afrika Utara, Timur Tengah, hingga Asia Pasifik.
Ia menegaskan penjajakan kerja sama tersebut terbuka dan tidak membatasi keterlibatan mitra asing, melainkan mendorong pengembangan industri dan penciptaan nilai tambah sumber daya alam di Indonesia.
"Yang kita inginkan apa? Nilai tambahnya ada di dalam negeri. Jadi, itu sekali lagi, this is not resource nationalism, this is resource industrialization atau hilirisasi. Kita, ekonomi Indonesia yang terbuka dan kita inginkan Batam akan menjadi salah satu maritim hub yang terbesar di dunia nanti," kata Rahmad.
Dalam rencana penjajakan ini, pihak Pupuk Indonesia masih mengevaluasi beberapa lokasi potensial untuk pembangunan fasilitas pabrik amonia.
Penentuan lokasi akan mempertimbangkan kesesuaian lahan dan rencana pengembangan jangka panjang kawasan.
β Deputi Bidang Investasi BP Batam Fary Djemy Francis mengatakan penjajakan kerja sama ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo untuk menjadikan Batam sebagai role model pertumbuhan ekonomi melalui investasi.
BP Batam akan memfasilitasi kebutuhan kepastian lokasi dan juga percepatan akses perizinan untuk pengalokasian lahan.
"Kalau sudah masuk dalam ready to invest BP Batam akan membentuk tim bersama dengan teman-teman di Pupuk Indonesia. Kami sudah tunjuk beberapa direktur kami dan juga dari Pupuk Indonesia untuk melakukan komunikasi lebih teknis agar langkah-langkah strategis sudah kita bisa lakukan," kata Fary.
Apabila kepastian lahan dan ketersediaan bahan baku telah terpenuhi, pembangunan pabrik amonia diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga tahun dengan nilai investasi sekitar 500 juta dolar AS.