NADIKABAR.COM — Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkap pemerintah Amerika Serikat (AS) turut memindahkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke sistem perekonomian. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga pasar obligasi pemerintah di negeri Paman Sam.
Purbaya menjelaskan, pemerintah lebih dulu melakukan langkah tersebut meski sempat dipandang remeh. Ia menjelaskan, SAL ditempatkan di sistem perbankan dengan tingkat bunga yang setara dengan Bank Indonesia (BI).
Langkah ini tidak hanya untuk mendorong sistem ekonomi, melainkan juga bentuk intervensi pemerintah terhadap pasar obligasi. Cara ini juga dilakukan oleh AS untuk meredam tekanan di pasar obligasi pemerintah.
"Ketika saya pindahkan uang dari Bank Sentral ke perbankan, itu kan uang masuk ke sistem perekonomian, tapi cost buat saya nggak ada. Return-nya sama, saya minta bunga dari perbankan sama dengan bunga yang diberikan oleh Bank Sentral. Anda lihat tuh, kita juga sempat masuk ke bond market kan. Anda lihat tuh sekarang Amerika, akan melakukan hal yang sama," ungkap Purbaya di kawasan Sunter, Jakarta Utara, Selasa (8/9/2026).
Purbaya menjelaskan, AS melakukan langkah tersebut untuk menurunkan imbal hasil obligasi pemerintah dan mengembalikan arah ekonomi. Namun begitu, ia mengklaim telah menjalankan langkah tersebut lebih dulu dari AS.
"Saya sudah lakukan duluan sebelum Bank Sentral, sebelum pemerintah Amerika, si Bessent (Menteri Keuangan AS) melakukan itu. Jadi kita pinteran sedikit lah. Itu yang ini kan, kalau dulu saya susah jelaskan ke publik, kenapa? Mereka bilang, ini pasti ngarang aja jurusnya," terangnya.
"Ternyata Amerika melakukan hal yang mirip dan sejenis. Jadi harusnya sih, ini menggambarkan bahwa memang yang kita terapkan bukan pengetahuan abal-abal. Memang suatu yang dihitung di atas kertas reaksinya seperti apa ke perekonomian," tambahnya.
Purbaya menambahkan, kebijakan tersebut menjadi salah satu langkah yang paling membanggakan selama setahun menjabat sebagai Menteri Keuangan. Menurutnya, kebijakan itu turut membantu membalikkan arah perekonomian menuju pertumbuhan 6%.
"Yang kita banggakan tadi, kita berhasil membalik ekonomi dari melambat, mungkin ke arah 4% lah ya, menjadi berbalik ke arah 6%," pungkasnya.