NADIKABAR.COM — Presiden Rusia Vladimir Putin pada Minggu mengatakan bahwa Eropa saat ini menghadapi krisis migrasi.
Dalam wawancara dengan jurnalis Rusia Pavel Zarubin, pemimpin Rusia itu mengatakan bahwa anak-anak dari orang-orang yang datang ke negara-negara Eropa dari Timur Tengah melihat dan merasakan ketidakadilan yang menyasar orang-orang sebangsa dan seagama mereka.
"Krisis migrasi. Ya, ini memang sebuah krisis," kata Putin.
Putin menambahkan bahwa untuk mengatasi masalah migrasi, negara-negara Eropa seharusnya berfokus pada pendidikan para pendatang yang pindah ke Eropa serta mengintegrasikan adat istiadat dan tradisi Eropa ke dalam komunitas mereka.
Namun, menurut Presiden Rusia itu, masyarakat Eropa tidak dapat menerapkan kebijakan tersebut karena mereka justru "menghancurkan adat istiadat dan tradisi mereka sendiri".
"Kelompok migran dan anak-anak mereka ini tentu saja belum terjangkau. Banyak orang telah datang dan tinggal di sana selama puluhan tahun tanpa bisa berbicara dalam bahasa negara tempat mereka tinggal," kata Putin.
Putin menambahkan bahwa Eropa tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk mengasimilasi seluruh migran sehingga kondisi tersebut memicu krisis.
"Kita memiliki perwakilan dari berbagai budaya dan agama, yakni Kristen, Muslim, Yahudi, dan Buddha, dan mereka tidak memiliki tanah air lain. Rusia secara historis berkembang sebagai negara multietnis dan multi-agama, sedangkan hal itu tidak berlaku di sana (Eropa)," katanya.
"Mereka memiliki tanah air lain. Ini merupakan perbedaan yang sangat besar. Oleh karena itu, mereka tentu harus memberikan perhatian yang lebih besar terhadap persoalan ini," imbuh Putin.
Putin menambahkan bahwa otoritas Rusia juga perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap persoalan kebijakan hubungan antaretnis.